Setenang hamparan selimut Sang Dewi Sri Yang disapa embun Ketika lentera bumi menunjukkan kesombongannya Pagi itu, aku terbangun dengan senyuman manis dibalik selimut merahku. Ku hanya bisa melihat para bandit air mencoba memecahkan kaca pemisah antara diriku dan mereka. Melodi rintikan dan jeritan mereka menambah kegelapan sunyi seyap nan damai di bawah gubuk tanah merah tempat ku bermimpi. Memang ini merupakan hal biasa, namun selalu terasa spesial untuk dirasakan. Selalu ku pantulkan mimpiku di atas hujan, ku melihat diriku berselimutkan jas hitam, bersandar di atas klitoris berjalan, dan berlindung dibalik indahnya kuda hitam Chevrolet V4 . Seruan menuju kemenangan membuatku tersadar bahwa aku hanya basah kuyup tertimpa hujan. Aku tak bisa memantulkan mimpiku kepada hujan. Yang kulihat hanyalah sebuah cerminan bayangan diriku di setiap tetes hujan yang akan selalu jatuh ke bawah. Dreaming is over, I used to have another rain . Mungkin mimpiku hanyalah sebatas menunggu ...