Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Tanpa Bunga dan Telegram Duka

Almost everything we call ‘higher culture’ is based on the spiritualization and intensification of cruelty. This is my preposition: the ‘wild beast’ has not been laid to rest at all, it lives, it flourishes, it has merely become deified. Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil, 1885 Begitulah penggalan dua kalimat dari Nietzsche yang merupakan inti dari cerita buku “Menyusu Celeng”. Jika Nietzsche berasal dari Jerman dengan segala latar belakangnya, maka buku ini merupakan versi Nusantaranya. Kita tidak akan menemukan kata ‘hewan liar/the wild beast’, namun kata – kata celeng dengan segala kata turunannya akan menjadi santapan ringan yang digambarkan melalui tokoh utama yaitu si pelukis celeng. Pada awal cerita, melalui si tokoh pelukis, Mpu Sindu memberikan cerita – cerita pengantar lagu anak – anak yang notabene telah familiar dengan mayoritas pembaca. Bahkan Mpu Sindu mampu menyuguh filosofi lagu anak – anak “Keretaku tak Berhenti Lama”dengan epik. ...