Setenang hamparan
selimut Sang Dewi Sri
Yang disapa embun
Ketika lentera bumi
menunjukkan kesombongannya
Pagi itu, aku terbangun dengan
senyuman manis dibalik selimut merahku. Ku hanya bisa melihat para bandit air
mencoba memecahkan kaca pemisah antara diriku dan mereka. Melodi rintikan dan
jeritan mereka menambah kegelapan sunyi seyap nan damai di bawah gubuk tanah
merah tempat ku bermimpi. Memang ini merupakan hal biasa, namun selalu terasa
spesial untuk dirasakan. Selalu ku pantulkan mimpiku di atas hujan, ku melihat
diriku berselimutkan jas hitam, bersandar di atas klitoris berjalan, dan
berlindung dibalik indahnya kuda hitam Chevrolet
V4.
Seruan menuju kemenangan
membuatku tersadar bahwa aku hanya basah kuyup tertimpa hujan. Aku tak bisa
memantulkan mimpiku kepada hujan. Yang kulihat hanyalah sebuah cerminan
bayangan diriku di setiap tetes hujan yang akan selalu jatuh ke bawah. Dreaming is over, I used to have another
rain. Mungkin mimpiku hanyalah sebatas menunggu hujan turun tanpa harus
memperjuangkannya.
Setelah menuntut surga terhadap
Sang Gusti, kubergegas berjalan ke belakang dengan perasaan bersalah. Ku
bergegas membantu Sang Demang mencacah halus zat kapur hasil pencarian keong
semalam suntuk. Beliau percaya bahwa aku lelah karena harus menempuh 48 km demi
gelar pendidikan, sehingga aku harus beristirahat. Justru hal itu buatku
semakin tenggelam dalam gelora amarah kesalahanku. Sedangkan, para unggas
penafsu makan hanya tertawa melihat sinetron kehidupanku.
Selayaknya diriku layak
Layaknya pelangi yang selalu menunggu Sang Hujan reda
Aku tak tahu kenapa mata ini tertawa
Dalam sedih sedu tersamarkan oleh hujan
Mungkin ini yang dinamakan
kewajiban tetua – tanggung jawab. Namun tetap saja aku tak sudi melihat beliau
yang selalu kugendongi untuk berlari.
Kubasuh diriku dengan dinginnya
air sawah, menyumpal mulut dengan beratus – ratus butir nasi yang selalu
sebanding dengan satu sel telur calon kehidupan. Sekilas ku sadar bahwa untuk
hidup sampai titik ini, sudah berapa kehidupan yang harus dikorbankan? Ku masih
tak peduli.
Jam di gubuk reyot mununjukkan 5.13. tersisa 2 menit bagiku untuk mengejar sang pujaan hati. Demangku sudah menyiapkan besi kayuh siap pakai. Dengan kekuatan kaki yang masih berlumpur dan tangan berbau amis linyir, aku dan sang demang melaju kencang bagaikan mengejar bintang. Tanpa peduli jalanan rusak penuh genangan air yang selalu menyapa punggungku.
5 menit, 10 menit, 15 menit, 20
menit kami masih berdiri sambil menyapa Sang Surya yang bangun dari
pangkuannya. Percikan genangan air dari gesekan karet dan aspal selalu
menyadarkan bahwa kami sedang menunggu sang pujaan hati. Setahuku sang pujaan
hati tidak akan pernah mengkhianatiku, dia tidak akan meninggalkanku. Sudah 3
tahun kami bersama, dan semester ini adalah awal tahun keempat kami bersama.
Hari ini akan kutunjukkan celana baruku yang sudah berubah menjadi abu – abu.
Senyumku benar – benar hilang
ketika kulihat tetesan air asin keluar dari setiap pori sang demang. Cahaya
tatapan jendela dunia yang semakin redup menguning, mengisyaratkan kelelahan
yang sudah amat letih. Keletihan tiap malam menggapai asa demi penglayakan
hidup buah hati. Sedangkan buah hati yang semakin hari semakin membusuk diterpa
arus kehidupan kota.
Air mata menertawai kesalahanku
Seolah puas dengan pandangan hinanya
Ku terdiam meratapi betapa lucunya sikapku
Apakah kusangguh menjalaninya dengan penuh canda?
Lengan anyir mendekap mustakaku.
Kurasakan detak hidup yang semakin jelas terasa menandakan keletihan hidup.
Bagiku, aku ingin mati muda. Tak mau mencicipi letih kerasnya penghidupan. Tiba
– tiba kuingat kata Giek, beruntunglah mereka yang mati muda. Tapi aku tidak
seperti Giek, masih jauh dari harapan bangsa. Masih jauh untuk menjadi lentera
di atas langit.
Sang pujaan hati tidak akan
datang atau mungkin dia telah menemukan penggantiku di lain jalan. Dengan pelan
ku langkahkan tulang mudaku menyusuri bahu penghubung kehidupan. Kumasih
rasakan hangat dekapan keriput kulit dengan diriku. Aku ingin kaya seperti
mereka gumamku, ku tak mau hidup seperti ini. Tapi, aku juga tak mau di panggul
oleh sang demang. Duh Gusti, apa yang harus kulakukan? Aku ingin cari
penghidupan sendiri.
Kulepaskan dekapan anyir sang
demang. Kutegaskan ku takkan lanjut berhubungan lagi dengan sang pujaan hati.
Aku terlalu lelah melihat demang yang berjuang sendirian. I’ll give up all I had just to breathe. Bau anyir menusuk hidup
tiba – tiba menamparku dengan kerasnya. Air mata kembali menertawaiku. Ku tak
tahu apa yang terjadi. Yang kutahu kuharus mencari pujaan hati untuk
melanjutkan impian hidup, tegas demangku. Ku hanya mengangguk pelan.
Tibalah ku di salah satu tempat
yang katanya bisa untuk menggapai uang di masa depan. Tapi bukan itulah yang
kami tuju. Kami turun di pematang bumi depannya. Ku letakkan sol hitam, wadah
ilmu, dan baju putihku di bahu jalan untuk memancing pujaan hati lain. Kemudian
ku turun bersama sang demang ditemani sepasang polimer hitam kusut. Ku raba
setiap titik ruang air hitam tak tunak berviskositas tinggi, tuk menggapai asa.
Ugh, betapa rendahnya hidup para asa, gumamku.
Baru 7 asa kudapat, lentera di
langit semakin meninggi, sesekali kudengar bunyi peluit sang pahlawan
penyeberangan jalan. Kulihat beberapa manusia berjalan dengan tatapan jijik
kepadaku, padahal mereka memakai baju yang sama denganku. “Skolah gw lebih
bagus anyiiing!!! Bangsat lu semua”, batinku bergejolak. Kenapa aku harus mau
mengais comberan mereka demi segenggam asa, gumamku. Namun terkadang kulempar
senyum palsuku kepada mereka yang dulu pernah memakai celana ungu yang sama
denganku.
Manisnya hidup sangat terasa hina
Sekilas kuingin menjalani hidup mereka
Senyum canda tawa
Selalu menyambut hangatnya mentari
Duh Gusti, kenapa dibalik
kesusahannya pasti ada penderitaan? Mana janji-Muhh..? tak sengaja dibalik
keluhku ternyata ada benarnya. Sebuah kumpulan silika tajam membuat vandal
merah ilegal di telapak kakiku. Kutahan
rintihanku agar sang demang tak mendengar keluhku. Kusadar aku lebih takut sang
demang dari pada sang Gusti, ya memang sejauh ini sang demanglah yang
memperjuangkan hidupku. Namun memang nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
Pancingku bergerak pertanda kutangkap pujaan hati sebagai alatku menggapai
pendidikan.
Ku lemparkan senyum lebar beserta
lambaian tangan pesing ke arah sang demang yang sudah jauh di depan. Demangku
membalas senyum tawa lebar sembari melambai kesenangan mendapat sebuah asa yang
besar. Kutertawa kecil melihat gigi hitam berselimut bekas tar tembakau bakar.
Satu hal yang pasti, ku tak bisa menjabat tangan demang kali ini. Ku
prioritaskan pujaan hati sebelum mencari hati yang lain, walau ku tahu tiang
bendera menunggu diriku untuk menemaninya di bawah teriknya lentera di atas
langit.
Salam hamemayu hayuning bawana
Komentar
Posting Komentar