Seiring gelap turun membayangi sang bumi, angin semakin menyombongkan dirinya sembari menusuk diri. Ku genjot sang kekasih tua tuk menemaniku malam itu menuju gelapnya kehidupan ganesha. Berselimutkan epidermis, berbalutkan gombal lusuh, kuberanikan diri tuk menyapa angin malam. Malam itu, kembali kuberkumpul bersama burung – burung yang siap membumi. Didera kebosanan akan kehidupan langit yang tinggi, membuat kami harus sejenak menundukkan pandangan dan melihat senyum, salam, sapa akan realita kehidupan bawah yang ada. Melihat senyum, salam, sapa interaksi antar makhluk yang akan selalu ada. Melihat senyum, salam, sapa mata kail pancing yang selalu dilempar ke atas. Menunggu mangsa agar mau turun ke bawah dan memberikan setitik lentera bagi kehidupan mereka. Ketika gelap menyelimuti dunia Sang Bumi menangis dalam diam Tangis yang diselimuti keharuan Saksi para langkah yang semakin jauh Atas fananya pesta pelepasan babu kota. Kami putuskan untuk merakit jala tujuan...