Almost everything we call ‘higher culture’
is based on the spiritualization and
intensification of cruelty.
This is my preposition: the ‘wild beast’
has not been laid to rest at all,
it lives, it flourishes, it has merely become
deified.
Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil, 1885
Begitulah penggalan dua kalimat dari
Nietzsche yang merupakan inti dari cerita buku “Menyusu Celeng”. Jika Nietzsche
berasal dari Jerman dengan segala latar belakangnya, maka buku ini merupakan
versi Nusantaranya. Kita tidak akan menemukan kata ‘hewan liar/the wild beast’,
namun kata – kata celeng dengan segala kata turunannya akan menjadi santapan
ringan yang digambarkan melalui tokoh utama yaitu si pelukis celeng.
Pada awal cerita, melalui si tokoh
pelukis, Mpu Sindu memberikan cerita – cerita pengantar lagu anak – anak yang
notabene telah familiar dengan
mayoritas pembaca. Bahkan Mpu Sindu mampu menyuguh filosofi lagu anak – anak
“Keretaku tak Berhenti Lama”dengan epik.
Sebelum melukis celeng, si pelukis membuat
lukisan muram yang mengajak orang merenung tentang penderitaan dan beban
kehidupan. Warna lukisan yang merah kecoklat – coklatan memaksa orang untuk
memasuki dunia suram yang terdapat kereta tua panjang, reyot, serta terseok –
seok. Kereta itu penuh sesak manusia hingga di atap kereta. Mungkinkah masih
bisa dijejali manusia? Dikiri kanan rel juga terdapat lautan manusia. Sama
dalam seragamnya yang terpudar serta tenggelam dalam warna berat tanah
kecoklatan. Ternyata mereka adalah buruh – buruh pabrik kasar dan miskin yang
baru pulang kerja. Walau kereta manusia sudah terdesak sangat padat, manusia –
manusia pinggiran rel seakan bertanya masih adakah tempat tersisa? Tapi
kerumunan manusia yang kendati penuh sesak masih memberikan perhatian dan
pertolongan ke sesama, ”ayo naiklah dengan percuma! Keretaku tak berhenti
lama.”
Itulah kenyataan hidup yang berat dan
penuh beban dari mereka yang miskin. Mpu Sindunata melalui pelukis
menghubungkan kenyataan pahit dengan kegembiraan masa kanak – kanak yang tak
mengenal penderitaan dan beban kehidupan. Dilihat dari deskripsi lukisan dengan
goresan keras dan sapuan warna berat yang tidak menggambarkan romantika
penderitaan, lukisan tersebut justru menimbulkan pertanyaan aneh, bagaimana
orang harus bernyanyi dalam kehidupan yang berat?
Paradoks penderitaan itulah bawah sadar si
pelukis. Penderitaan mereka – mereka yang kecil dan tertindas sama sekali
tidaklah mencerminkan permintaan belas kasihan. Mpu Sindu menegaskan bahwa
penderitaan itu meneriakkan perjuangan dan perlawanan walau tak menjanjikan
kemenangan. Buruh – buruh kasar yang menyanyi menyatakan bahwa nyala hati
mereka tak pernah pada, meski dalam lembah kehidupan yang muram.
Pada awal cerita, si pelukis selalu
menggambarkan lukisan – lukisan yang penuh akan perjuangan. Lukisan ibu yang
menyelamatkan diri dari penggusuran dengan menyunggi makanan jualannya serta
mengandeng si buah hati. Namun terdapat secoret senyum di lukis bibirnya. Si
pelukis juga sering melukis seni budaya tayub
yang terdapat penari ledhek di
lukisannya. Kadang si pelukis mencuri kecerahan dengan membubuhkan warna terang
dalam suasana gerak penari ledhek.
Harapan! Itulah yang hendak disampaikan pelukis di setiap lukisannya.
Si pelukis merasa kurang jika lukisannya
hanya dirasakan secara individual. Oleh karena itu, si pelukis bertekad
mengembangkan lukisannya secara sosial dan harus berani melawan kekuasaan.
Celeng merupakan lukisan yang dipilihnya. Celeng merupakan simbol kekuasaan
yang harus dilawan. Dalam lukisannya, pelukis ingin rakyat agar menangkap si
celeng tersebut. Ia melukiskan bahwa celeng dan rakyat terpisah jurang yang
lebar dan sangat dalam. Hal ini menggambarkan bahwa tak mungkin celeng tersebut
disentuh atau bahkan diganggu gugat. Mungkinkah harapan rakyat terpenuhi?
Benteng kota yang megah itu akhirnya dijebol
oleh rakyat. Seperti banyu gemrojog,
rakyat mendatangi kantor pemerintah dengan membawa spanduk – spanduk
bertuliskan reformasi dan demokrasi. Ternyata air bah rakyat tersebut hanyalah
latar belakangan sebuah lukisan. Latar utama lukisan terletak pada celeng hitam
besar yang tertangkap yang terkesan hina dan nista. Anehnya dalam lukisan
tersebut celeng raksasa dapat digotong dengan bambu. Penggotongnya pun hanya
dua lelaki penderita busung lapar. Kenapa bisa kuat? Melalui pelukis, Mpu Sindu
memaparkan bahwa bambu tersebut merupakan kesatuan rakyat. Kesatuan rakyat itu
lentur seperti bambu. Kalau keras dan kaku, bambu itu akan patah. Dua orang
busung lapar merupakan wujud rakyat yang menderita. Tubuh mereka memang lemah,
namun semangat mereka membara.
Dalam kepercayaan Jawa, celeng atau babi
jadi – jadian dapat dihidupkan kembali jika orang yang terdekat atau istri dan
keluarganya. Setelah kematian celeng tersebut, banyak orang – rang yang
mendekatinya. Kebanyakan mereka berbaju kuning sebagai tanda duka untuk
melayat.
Si pelukis selalu kebingungan dengan
lukisan celengnya yang selalu terjadi persis di dunia nyata. Apakah lukisannya salah kedaden? Ia sadar, ia membuat
celeng karena hasrat balas dendam akan dirinya dulu yang pernah dipenjara lama
karena dicap seniman yang berbahaya.
Sebagai seniman, ia pernah membuat celeng
untuk dikepruk (dihancurkan) di akhir
pameran. Pameran tersebut rencana di adakan di ulang tahun kota istimewa.
Namun, secara mendadak sang pemimpin kota tidak bisa hadir dan tentu saja
celeng tidak jadi dikepruk. Apakah ini bertanda bahwa sang penguasa feodal
sadar tidak mau tumbang? Di sisi lain, terdapat wanita yang kumat gilanya di
setiap bulan kesembilan. Usut demi usut ternyata wanita ini gila karena pernah
keluarganya dibantai habis dibulan kesembilan. Di akhir pameran, wanita ini
mendekati celeng – celeng yang dibuat pelukis. Pelukis berharap si wanita akan
mengepruknya, namun ia hanya meludahinya.
Kebingungan melanda si pelukis. Suatu malam
ini memandangi lukisan celengnya. “Celeng *su!” Namun seakan umpatannya ke
lukisan seakan memantul kepada dirinya. Apakah dia juga celeng? Si pelukis merasa
dirinya adalah pejuang rakyat. Ia terlunta – lunta hingga ia masuk penjara. Di sisi
lain, si pelukis tidak mengingkari bahwa ia ingin hidup enak dengan gaya
borjuis. Sekarang hidupnya telah jauh dari rakyat. Ia teringat ketika masih
belajar, ia selalu meneriakkan perjuangan rakyat dan anti orang kaya serta
selalu membela yang miskin. Tapi mengapa waktu itu ia juga berlagak bagaikan
orang kaya, memakai setelan jas, dengam kemeja buatan Korea? Ia tak pernah bisa
menjawab berbagai pertentangan tersebut.

Komentar
Posting Komentar