Langsung ke konten utama

Dilema Perjuangan

Tangis Sang Surya menyapaku di kala pagi
Hampir setiap hari
Sang Dewi Sri selalu menyambutku
Layaknya Sang Pemimpin merah putih bersama para selirnya

Jiwa calon pemimpin bangsa ini belumlah mati
Hanya berharap si cangkul segera tiba

Ku masih berjuang, berjuang melepaskan dekapan kuat sang bumi seolah tak mau ku pergi. Ku hanya ingin melangkah sejengkah, gumamku. Namun ia tak berkata sepatah pun. Aku memberontak pergi. Namun hanya selangkah kaki ini berpindah, sang bumi sudah mendekapku lagi seolah tak ingin ku pergi jauh. Hidup ini berat. Apalagi ku harus menopang ember kehidupan Sang Dewi Sri, menjadi tangan Tuhan. Ku tetap berjuang, mencoba menyamakan irama langkah bersama tebaran serbuk merah putih tangan Tuhan.

Apakah kehidupan bersifat transaksional? Ku harus memberi agar diberi. Ku harus mengasih agar dikasih. Ku harus mencinta agar dicinta. Sangat sederhana namun syarat makna. Ku harus menghidupi Sang Dewi Sri agar Sang Dewi memberiku sebuah penghidupan.

*
Malam itu kulangkahkan kaki menjauhi serambi penyembahan Gusti lebih awal. Ku berbalik melawan arus manusia yang melangkahkan kaki mereka tuk sekadar berkumpul membicarakan kebesaran Gustinya. Ku lelah dengan semua omong kosong ini, sebuah doktrin yang kulahap paksa selama 15 tahun jalan penghidupanku. Mungkin sudah saatnya bagiku tuk memuntahkannya kembali. Kali ini ku benar – benar tak peduli lagi.

Ku bergegas mencari sebuah wadah tenun putih. Ku bergegas mencari sumber bara api. Ku kumpulkan semua berkas ilmu – ilmu duniawi yang telah kudapati selama ini. Tumpuk demi tumpuk akhirnya menjadi bukit kertas yang terselimuti oleh putihnya kumpulan benang tenun. Ku topang beratnya ilmu yang telah kudapati dan kubawa untuk persembahan Sang Dewi Sri. 

Sang Dewi menjadi saksi bisu kelam kejamnya hidup ini. Ku pikir percuma selama ini aku terdidik tuk menjadi seorang babu. Atau mungkin hanya orang berdompet tebalkah yang punya cita – cita? Ku nyalakan panasnya merah yang meng-gerogoti sucinya putih bercoret penanya hitam pekat ilmu. Usai sudah sekolah, gumamku. Tiada lagi penghidupan. Semoga yang kujalani selama 12 tahun ini tak sia – sia. 

Aku iri melihat mereka berfoya – foya terhadap pendidikan. Seolah tak ada yang berarti. Mengikuti arus geostropik yang selalu bergerak dari tinggi menuju ke rendah. Seolah lembaga formal tak berarti. Mengikuti perkembangan bisnis jaminan masuk perguruan tinggi. Aku mah bisa apa? Namun ku takkan pernah bisa menyalahkan keadaan. Ku harus berjuang lebih daripada mereka. Ku tak mau mengkhianati pemberian Sang Gusti, walau terkadang aku masih sering lupa akan rasa dosa.

*
Sunyi, seyap, sepi, kusibak dari selimut kesendirianku di malam itu. Waktu menunjukkan bahwa Sang Mega Jingga baru saja turun dari langit barat. Ku bergegas membalut tulang penyangga tubuh dengan hangatnya kain nilon dan sol karet. Tak lupa ku kenakan kulit sintetis berisi beberapa gulungan tembakau kering agar kubisa menyelinap di setiap lingkungan malam dingin yang kan kuhadapi. 

Langkah demi langkah kususuri kegelapan kehidupan tembok yang saling berhimpit memberi kehangatan sang penghuni. Kulewati deretan pemuda yang asyik mengobrolkan bagaimana mereka mencari penghidupan yang layak. Sejenak kuberhenti, hanya untuk mendengarkan curhatan mereka dan menggapai tujuan utama, menyalakan api menghanguskan daun coklat tembakau. Ku tak bisa lanjut begitu saja, ku masih terpaku mendengarkan curhatan mereka. Sesekali mereka melambungkan namaku dengan balutan almamater hijau. Namun, selalu kulempar saja jauh – jauh hal itu. Kutampar mereka dengan cerita busuknya realita kehidupan fana kampus. 

Ku lanjutkan langkah hingga menapaki tempat yang kuimpikan. Sebuah jalan besar yang kuharap namanya terpampang menggantikan nama Taman Dago. Sebuah nama sang pahlawan yang menjadi besar karena nama landasan besi terbang di kota lain, namun di kotanya sendiri hanya diinjak oleh keegoan pengguna kerasnya aspal jalan. Sebuah nama yang membesarkan potensi kelautan Indonesia. Namun sia – sia karena tak ada yang hanya mencoba melirik.

Mungkinkah kita
Selalu ada kesempatan
Untuk melihat
Apa yang tak terlihat
Atau hanya sekadar menengok
Asa perjuangan bangsa

Ku masih merenung sembari menyusuri ubin kuning bagi yang tak punya jendela dunia. Menikmati kesendirian di tengah keramaian, menikmati terang di tengah kegelapan. Langkah demi langkah kunikmati sembari melewati lapak – lapak kecil hingga gedung – gedung beton yang sedang tidur lelap.

Sungguh kenikmatan yang hakiki.

Well, I found a love for me
When I was dancing in the dark
With you between my legs
It was perfect tonight
Inspired by Ed Sheeran

Ku melihat kesendirian kursi tua yang duduk merenung. Menghadap ke sebuah realita nama pahlawan yang selalu menghantarkan manusia ke tujuan duniawinya. Seolah berkata bosan terhadap kedudukannya yang terjebak dalam satu titik tak bisa berpindah. Tak tega melihatnya, kuhanya bisa duduk termenung menemaninya dan bercerita tanpa ada responnya.

Kurogoh sebuah pematik api dan sebuah batang putih dari pembungkus badanku yang rapuh. Kubakar hasil perjuangan petani tembakau untuk sekadar menambah penghasilannya. Asap putih mengepul diangkasa seiring ku teringat diriku yang dulu masih cupu, hanya mengenal dunia persawahan. Masih terbayang rasa lembut ketika pupuk urea kutebarkan di hamparan hijau Sang Dewi Sri dan kuatnya dekapan lumpur. Masih terasa berat ketika kuharus mengayunkan pacul melukai sang Bumi. Masih terasa lunak ketika kutinggal memetik cabe sembari menerbangkan impian bersama layang – layang.

Kesenyuman merasuki keringnya bibir. Membuat reaksi berantai bagi orang – orang yang berlalu lalang melihat terangnya gigiku di tengah pekatnya malam dan aspal. Kutak peduli. Justru aku akan semakin melebarkan senyum akan hal itu.

Terima kasih kuucapkan pada Gustiku yang telah memaksaku memperluas zona nyaman. Namun, aku rindu akan perjuanganku tempo dulu. Ketika aku hampir putus asa melanjutkan formalnya pendidikan. Ketika aku hampir putus asa akan cita – cita. Ketika aku hampir nekad pergi dari hangat nyaman peluknya demang dan raden ayu hanya untuk rantau.

Terima kasih kuucapkan pada Gustiku yang telah memaksaku memperluas zona nyaman. Sekarang aku semakin tambah bersalah. Ketika harus menerima uang negara hasil perasan dari sang rakyat. Ketika harus hidup dengan uang yang sebenarnya bukan hakku. Kenapa aku layak mendapatkan hal ini semua? Kumasih merenung dan berjalan tiap gelap turun hanya untuk mencari jawabnya.

Terima kasih kuucapkan pada Gustiku yang telah memaksaku memperluas zona nyaman. Namun, kulebih menikmati hari – hari di mana ku tak tahu rasa malu. Ketika harus berseret – berseret, mengaduk – aduk dunia bawah air comberan selokan depan sekolah, hanya untuk mencari keong asa untuk sang bebek di rumah. Ketika harus melempar senyum palsu ketika sapa datang dari teman sebangku dulu yang baru saja mencetak tugas belajar beberapa lembar. Terkadang terselip rasa ingin merasakan halusnya kertas selembar, daripada bersusah payah merasakan licinnya rumah keong.

*
Jam menunjukkan angka kembar yang sama menandakan hampir tengah malam. Tak terasa kembali kuhabiskan setengah malam termenung di samping nama pahlawan. Mungkin para pohon, kursi kayu, bahkan aspal telah bosan melihatku. Namun mereka pandai menutup cerita seolah seperti blangkon jawa. Kukembali melangkah kembali ke hangatnya pelukan tembok kamar tanpa kasur. Tapi itu cukup buatku tuk bermimpi menggapai asa setiap malam.

Memang Gusti suka becanda. Suka membolak – balikkan hati. Salah sendiri kenapa Gusti sesuai prasangka hambaNya. Sehingga terkadang aku ingin naik ke atas, namun seketika juga ingin turun ke bawah. Tapi, terima kasih untuk semuanya. Aku yakin semua ada maksud dan tujuan yang baik pada akhirnya. Seperti kebanyakan film, pasti tokoh utama hidup dan menang di akhir. Kecuali surat kecil untuk Tuhan.

Aku yakin suatu saat nanti yang pernah jatuh kan berdiri lagi. Yang patah akan tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur, akan terobati. Yang sia – sia, akan jadi makna yang akan terus berulang.
Banda Neira

Salam hamemayu hayuning bawana.

Daftar Pustaka Foto;
https://www.calroseco-op.com/
http://csinema.com/tips-shooting-malam-hari/kursi-malam-hari/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

How climate change adaptation produces inequality

According to Asia's fact sheet from IPCC (2022) , cyclones, floods, and typhoons have displaced 9.6 million in South, Southeast, and East Asia in 2019, or about 30% of total global displacement. This phenomenon will worsen as IPCC found that climate change in the form of rising temperature increases the floods in monsoon regions like Southeast Asia. Together with the heat stress, the fact shows that surges will highly likely harm food availability, resulting in undernourishment. In 2020, the floods combined with sea-level rise had increased the risk of 30,522 lives in Kuala Lumpur (Malaysia), Jakarta (Indonesia), and Ho Chi Minh (Vietnam). Furthermore, an additional 10,830 people will also be at high risk in 2035 (IPCC, 2022) . In Indonesia, the destructive impacts of climate change on the coastal sector, sea-level rise, will be responsible for 70.82% of the potential economic loss in 2024 for approximately 5.45 billion USD (National Development Planning Agency, 2019) . The most ...

Australia Safeguard Mechanism’s Impacts on Economy

  Executive Summary      Australia sets a target to reduce emissions from 621 MtCO 2 -e in 2005 to 354 MtCO 2 -e in 2030 (DCCEEW, 2022a) . However, under the current effort, it is probable that Australia will emit 390 MtCO 2 -e in 2030 (DCCEEW, 2022b) . As deeper cut is fundamentally required, the Albanese government has just reformed the safeguard mechanism to further pressure the carbon emitters business to adhere closely to the Australia’s goal by strictly limit their caps. To achieve the national goal, it is expected that the new emission cap will be progressively tighten at least 4.9% per year (DPMC, 2023) .      The mechanism is criticized as a ‘toothless tiger’ since emissions from fossil fuels-related industries ironically grow up (ACF, 2022) . Since 2005, the sectoral emission trends in stationary energy, transport, and fugitives have increased 27.4%, 13.2%, and 14.1%, respectively due to continued growth of production and export...

Timor, A Global South within Global South

  Beta percaya refleksi tu bagian dari co-production of knowledge . So, this is my reflection of my latest six-month research in Timor. What is a global south? Firstly, let’s talk about what planning is . Planning atau perencanaan merujuk pada (UN-Habitat, 2009, p. 3) adalah upaya kolektif orang-orang untuk intervensi alam dan mengubahnya menjadi sebuah tempat atau kawasan yang sesuai dengan tujuan kolektif tersebut, khususnya dalam konteks sosial, politik, dan lingkungan. Tentu dalam perencanaan tersebut, banyak multidisplin yang terlibat termasuk masyarakat itu sendiri, pemerintah, dan para investor. Kalau kita gali lebih dalam, terdapat 5 aspek dalam perencanaan (Healey, 2003) : orientasi mengenai masa depan dan aksi-aksi sekarang akan mempengaruhi potensi masa depan, fokus pada kehidupan dan keberlanjutan untuk orang banyak (bukan hanya beberapa kalangan), keterikatan dan kesinambungan antara satu rencana ke kejadian yang lain, fokus dalam pengembangan pengetahuan aksi publ...