Seiring gelap turun membayangi sang
bumi, angin semakin menyombongkan dirinya sembari menusuk diri. Ku genjot sang
kekasih tua tuk menemaniku malam itu menuju gelapnya kehidupan ganesha.
Berselimutkan epidermis, berbalutkan gombal lusuh, kuberanikan diri tuk menyapa
angin malam.
Malam itu, kembali kuberkumpul
bersama burung – burung yang siap membumi. Didera kebosanan akan kehidupan langit
yang tinggi, membuat kami harus sejenak menundukkan pandangan dan melihat
senyum, salam, sapa akan realita kehidupan bawah yang ada. Melihat senyum,
salam, sapa interaksi antar makhluk yang akan selalu ada. Melihat senyum,
salam, sapa mata kail pancing yang selalu dilempar ke atas. Menunggu mangsa
agar mau turun ke bawah dan memberikan setitik lentera bagi kehidupan mereka.
Ketika gelap menyelimuti dunia
Sang Bumi menangis dalam diam
Tangis yang diselimuti keharuan
Saksi para langkah yang semakin jauh
Atas fananya pesta pelepasan babu kota.
Kami putuskan untuk merakit jala
tujuan bersama. Menyusun dan mengolah berbagai nutrisi bagi generasi calon
pemimpin bangsa. Menyusun dan mengolah perahu agar tak tenggelam dan mencoba
hidup bersama kaum sudra di atas ganasnya gelombang laut. Kami berangkat dalam
diam. Tersembunyi diantara gelapnya malam, tersembunyi diantara bisikan air
hujan. Menumpangkan diri ke kuda besi beroda karet, yang membawa kami melayang
turun ke dunia taman bunga tidur.
*
Kali ini aku kembali kalah. Sorot
silaunya tatapan mentari berhasil memaksaku pulang dari taman nirwana. Ku pikir
akan begitu juga dengan yang lain. Namun kali ini aku salah, yang lain sudah
siap dengan perbekalan yang ada, begitu pula coretan senyum di muka yang akan
selalu siap melebar setiap saat. Kami melangkah turun, menginjakkan kaki tanpa
rasa. Senyum hangat Sang Demang desa menyambut kami sembari menawari tempat
perehatan dan pembuangan tai semalam.
Kembali ku harus menghadap para
tunas bangsa. Hal yang harusnya membosankan, tapi tak pernah disesali. Aku rasa
ini sudah menjadi kewajiban langit untuk membasahi tanah, hanya untuk sekadar
tumbuh subur nan gembur. Bosan, resah, dan gelisah. Namun, selalu menjadi
santapan yang kutunggu dari sang Gusti. Sambutan senyum hangat nan meriah
begitu memikat hati, menandakan ketulusan dari para tunas bangsa. Sebuah
kebiasaan yang kurasakan, namun begitu nikmat untuk dirasakan. Bagaikan seorang
candu tembakau ketulusan.
Yang selalu bisa aku dapat dari
sang tunas bangsa adalah bagaimana takjubnya mereka mencerna setiap kata yang
didengar. Tanpa memiliki rasa memiliki, tanpa memiliki rasa sombong, tanpa
memiliki rasa bosan. Hanya kerendahan hati yang mereka punya. Mencerminkan
sebuah kesahajaan yang setidaknya dimiliki seorang manusia. Hal yang selalu aku
rindukan dari tanah. Hal yang tak pernah kudapatkan di langit.
Setitik embun menuju pagi
Tersipu malu ketika fajar menyongsong
Akankah ke tanah?
Ataukah ke langit?
Memang para tunas bangsa memiliki
mimpi setinggi angkasa. Namun kuhanya bisa tersenyum senang menutupi kepedihan.
Luka tak berdarah. Mungkin karena aku pernah berada di posisi mereka. Yang
kutahu, seiring berjalannya waktu semakin tinggi pula ku berdiri, semakin
terasa berat di tangan. Ku melihat ke bawah dan yang kurasa hanya takut akan
ketinggian, takut akan jatuh dan mati. Mungkin itulah yang dirasakan mahasiwa
berjiwa ndeso.
Aku berada di posisi serba salah,
antara membawa angan – angan mereka setinggi angkasa atau memaksa mereka
melihat realita para tetua desa. Mungkin itu salah kami yang menganggap petani
dan nelayan merupakan hal kecil, sehingga terkesan hina. Namun bagi kaum
langit, tentu menjadi babu tak masalah, yang penting bergelimang harta.
Tak ada satupun dari mereka yang
ingin menangkap asa di laut. Bagaimana bisa aku membawa angan – angan mereka
setinggi angkasa, jika ku harus mengkhianati pemberian sang tetua. Bagaimana
bisa aku membawa angan – angan mereka setinggi angkasa, jika mereka
mengkhianati surga di telapak kaki ibu. Mungkin setidaknya mereka harus
mencicipi begitu susahnya terbang di antara awan. Mungkin setidaknya mereka
harus sadar bahwa lumpur basah di bawah jurang lebih mudah dibersihkan daripada
lumpur kering di atas jurang.
*
Dibalik keheningan malam
Menuju pagi,
Setitik kesendirian embun
Yang selalu menanti datangnya mentari,
Namun tak ada yang lebih pasti
Daripada janji sang Gusti.
Setetes air hujan yang merembas
ke tanah merah kering jatuh menusuk hidung. Sekejap kubuka jendela dunia,
mendengarkan curhatan sang langit yang sedang menangis melihat ironi kehidupan
di atas sang bumi. Dentuman ombak yang menerpa darat menambah kehangatan indah
dibalik selimut tipis nirwana. Pagi itu hujan lebat membuat embun tak terlihat
di ujung hijaunya daun kelapa.
Hasrat menyuapi keluarga tak bisa
dibendung. Namun apa daya Gusti berkehendak lain. Hari itu di mana sang demang rumah tak bisa melaut. Hanya
secangkir teh panas dan tembakau bakar menemani kemesraan kami pagi itu.
Sang demang rumah memang bukanlah pengarung samudera. Beliau adalah
sang penempa yang bernilai lebih daripada pencari ikan. Tanpa adanya sang demang, logam apung takkan bisa
merapat ke darat Tanpa adanya sang
demang, takkan ada nikmat rasa penghuni dalamnya samudera. Walau dengan
jasa yang hanya berharga beberapa lembar, namun tetap beliau nikmati garis rezeki
yang telah ditetapkan. Satu prinsip, dekat dengan pelukan sang raden ayu setiap malam.
Mudah bagi sang demang jika hidup hanya untuk sekadar mencari materi. Apalagi
hanya sekadar materi yang mati. Namun bagi sang
demang, hidup adalah sebuah penghidupan. Bukan untuk mencari yang mati. Kalau
memang berjuang sukses demi senyum sang
raden ayu dan dua buah hati, kenapa waktu selalu habis diberikan untuk
senyum materi yang mati. Sungguh inikah nikmat kaum bumi?
Seiring mentari menyongsong
langit, tangis bumi mereda. Kuhabiskan waktu hanya dengan menyusun kandang bambu
dan meneguk tetes demi tetes pesingnya air degan muda. Sembari menikmati deru
udara pantai, ku pandang beberapa tunas bangsa yang sedang bermain ceria dan
membuang senyum ke sana dan ke mari.
Ditariknya lemah diriku untuk
menikmati petualang anak bangsa ke pinggir kehidupan sang nelayan. Kunikmati
detik – detik tawa, canda mereka yang belum mencicipi rasa dosa. Mereka yang
berlari – lari kecil sembari menendangi pasir, seolah menyombongkan diri di
mana kutak pernah temui kesenangan ini di atas sana. Sapa dan canda bersama
tanpa mengenal batas. Sapa dan canda bersama setiap makhluk yang ditemuinya.
Satu per satu pertanyaan yang
selalu muncul dalam benak mereka tentang bagaimana mereka bermimpi. Tentang
bagaimana kehidupan di atas awan sana. Ku hanya terdiam, membisi, dan merana.
Ku hanya ingin menjawab bertanya kembali. Bagaimana kalian sebagai tunas bangsa
menjaga nilai gotong – royong bangsa ini agar tetap utuh dan terkendali.
Bagaimana kalian menjaga senyum dan sapa yang selalu ada di kala badai menghadang.
Bagaimana kalian menjaga semua ini di tengah himpitan ekonomi. Yang kutahu,
kalian akan sulit menemukannya di atas sana.
Sumber kehidupan
Sang sumber kehidupan
Setinggi jauh apapun jejak langkah
Takkan pernah lupa laut
Sungguh nikmat ini sangat terasa
hingga kuharus melihat sang mentari mulai senyum menguap menuju senja, menjadi
cermin kebahagian para tunas bangsa yang berlari – lari kecil di atas anjungan.
Seketika ku harus kembali mengumpul bersama yang lain. Perasaan ini sungguh
jauh berbeda ketika kulihat rajutan senyum baru dibenak para burung langit.
Mungkin mereka telah melahap tuntas rasa kehidupan pelita maritim bangsa.
Sungai seolah tersenyum melambaikan
tangan untuk sekadar calig sejenak.
Memang itulah tujuan kami. Membondong turun, menyapa, sembari membawa buah
tangan. Aku dan yang lain ingin menjadikan mereka sekadar berteman. Kami tak
mengira, ternyata sang sungai bersifat kedondong. Dekapannya yang begitu kuat,
membuat kami melangkah rangkak susah. Seolah mengingatkanku terhadap dekapan
Dewi Sri ketika kami saling memberi kehidupan. Namun yang ini sungguh
keterlaluan.
Air susu dibalas dengan air tuba.
Halusnya senyum sang jalan pelita bangsa merusak raba. Mungkin karena ego kami
luar biasa, terbentuk karena lingkungan dusta yang kami hidupi. Mungkin karena
ego kami luar biasa, menusuk kehidupan pelita bangsa dibalik selimut keilmuan
yang kami banggakan. Ku juga tak bisa menyalahkan keadaan. Pada akhirnya kami
akui kesalahan ego kami.
Inilah kesempatan berbalas budi,
dibalik semua ego yang tumbuh abadi. Mencoba memperlancar pencarian asa, dibalik
kehidupan kami yang tak punya wirasa. Kami coba menutup luka, dibalik rajutan
mangrove yang tak rata. Duh Gusti, ampuni kami. Setidaknya diri kami pernah
merasa, merasakan luka dibalik keegoan bersama.
*
Malam itu canda dan tawa menjadi
perekat lembar cerita yang kami tulis bersama. Kehangatan ego kami membunuh
rasa empati tangisan sang langit. Sembari membakar asa pelita maritim bangsa, kami
cicipi daun asa bakar ala petani lereng gunung. Kepulan putih diantara gelap,
membawa angan kami setinggi rasi penunjuk arah. Tak lupa kami seduh hangat
secangkir serbuk kopi sebagai teman untuk menikmati panjangnya malam. Sungguh
sebuah konspirasi rasa yang sempurna.
Terima kasih kuucapkan kepada
Gusti terhadap kebhinekaan hidup. Sebuah keikhlasan senyum, canda, dan tawa
yang tak pernah memandang bulu. ‘Kucing saja disapa, apalagi manusia’, gumamku.
Hal yang sulit kudapatkan di kemegahan biru langit materi.
Salam hamemayu hayuning bawana.
Daftar Pustaka Foto;
Copyright by firmannara photograph
Daftar Pustaka Foto;
Copyright by firmannara photograph


Komentar
Posting Komentar