Beta percaya refleksi tu bagian dari co-production of knowledge. So, this is my reflection of my latest six-month research in Timor.
What is a global south?
Firstly,
let’s talk about what planning is. Planning
atau perencanaan merujuk pada (UN-Habitat, 2009, p. 3) adalah upaya kolektif orang-orang untuk intervensi alam dan
mengubahnya menjadi sebuah tempat atau kawasan yang sesuai dengan tujuan
kolektif tersebut, khususnya dalam konteks sosial, politik, dan lingkungan.
Tentu dalam perencanaan tersebut, banyak multidisplin yang terlibat termasuk masyarakat
itu sendiri, pemerintah, dan para investor. Kalau kita gali lebih dalam,
terdapat 5 aspek dalam perencanaan (Healey, 2003): orientasi mengenai masa depan dan aksi-aksi sekarang akan
mempengaruhi potensi masa depan, fokus pada kehidupan dan keberlanjutan untuk
orang banyak (bukan hanya beberapa kalangan), keterikatan dan kesinambungan
antara satu rencana ke kejadian yang lain, fokus dalam pengembangan pengetahuan
aksi publik, dan komitmen akan proses pemerintahan yang transparan dan terbuka.
Lalu kenapa harus ada binary antara Global North dan Global South?
Istilah ini
muncul karena adanya ketimpangan ekonomi, politik, dan kekuasaan global, antara
“negara maju” dan “negara berkembang”. Bukan bermaksud merujuk pada letak
geografi, toh Australia terletak di selatan, namun lebih sering dikategorikan
sebagai Global North. Sebenarnya ada setidaknya 3 alasan kenapa muncul
istilah ini. Pertama, untuk menekankan ketimpangan structural di mana
terdapat beberapa negara (mostly di utara) yang mempunyai relasi kuasa lebih
tinggi akibat kepemilikan modal yang besar sehingga sering kali mendominasi
pembuatan kebijakan global dan mengontrol pasar. Contoh simpelnya: terdapat
dominasi teknologi canggih di utara entah itu mobil hingga alat-alat di lab
karena mereka punya kapabilitas (uang) untuk research and development.
Mereka juga kadang bikin kebijakan yang bikin gonjang-ganjing negara-negara
selatan, semisal bikin kriteria kualitas sawit yang tinggi yang kadang
komoditas hasil dari Global South tertolak. Nah ini juga berhubungan
dengan alasan kedua: adanya praktek ketimpangan paska-kolonial dan
munculnya gerakan dekolonialisasi. Kadang the way we see the world has been
mostly intertwined dictated by these clowns. Semisal dulu, orang-orang
Eropa datang ke Pulau Timor buat maksimalin penanaman cendana dan jagung, ya kenapa? Ya karena
Eropa lagi butuh komoditas itu. Makanya mereka rela berkelana mencari untung
dengan menyiapkan supply tersebut karena demand yang besar di
Eropa. Sekarang juga ga jauh beda. Adanya artificial intelligent development,
carbon trading, trafficking etc ya karena mostly negara-negara North lagi
butuh (high demand) akan hal tsb, dan mostly South ngikutin. Ketiga,
istilah tersebut biar lebih sopan aja daripada nyebut ini negara kaya, ini
negara miskin.
Guys, you
need to understand the following two paragraphs about my positionality before
jumping to the reflection.
I entitled as
such due to my own positionality in this research. Aku
sadar bahwasanya banyak tahun-tahun kehidupanku habis di Jawa, my
home-island. As a majority, aku punya privilege untuk melihat Indonesia dari
kacamata Jawa nu aing! Sebagai orang yang baru belajar planning selama 2
tahun, aku baru sadar kenapa perlu adanya istilah development planning khususnya
dalam Global South. Hal ini merujuk pada fakta bahwa terdapat banyak
ketimpangan (access to resources) di negara-negara tersebut. Makanya, development
planning fokus pada improving people’s lives, emphasis on equal access
to resources! Damn, kadang aku jadi mikir kayanya aku oceanographer
yang nyasar jadi development practitioner deh wkwk. Karena posisiku ini,
aku belajar decolonializing my thoughts.
Terima kasih
kepada Samdhana Institute yang memberi dukungan pendanaan pada proposal risetku
dengan judul understanding how climate crisis drives women into deadly
trafficking abyss. Hal ini berangkat pada keberlanjutan curiosity tesis
masterku mengenai gender planning di Kota Pekalongan (in press by
Gender, Work and Organization, thanks Sonia!). Beberapa tahun terakhir,
saya banyak baca media mengenai isu-isu perdagangan manusia yang korbannya dari
NTT. Sebagai seorang climate-enthusiast juga (dan sebagai orang Jawa), beta
lihat NTT sebagai daerah yang juga kering dan makin parah kekeringannya akibat
perubahan iklim. Begitulah kira-kira yang membuat aku menuliskan (dan menarasikan)
judul riset tersebut.
Damn, to be honest I disagree and was shocked when the locals pointed
out that my research would colonialize Timorese way of life. Ada 3 poin penjelasanya
setidaknya.
Pertama, “kenapa lo ngerasa kasihan, Zik? Lo pikir ketong orang-orang Timor
patut dikasihani? Tapi makasih Zik atas empati lo, lo jadi main dan riset ke
sini dan mungkin lo akan belajar banyak!” – kata
Dominggus Elcid Li (direktur IRGSC, lulusan Harvard yg sangat low profile). Ya,
tentu empatiku membawaku ke sini dan aku merasa kasian melihat teman-teman di
Timor yang mengalami kekeringan sehingga harus migrasi. “Terus kenapa Zik
kalau lo merasa kasian? Idealnya emang kaya gimana? Ga kering? Ga migrasi?”
-tanya Mario Onggang (si narsis lulusan the best development school in the
werld, Sussex). Ini disebut creating the degree of pity-ness. Ada
level-level kasian yang aku ciptakan, dan sebagai orang yang biasa melihat
kehidupan cukup dan ideal (seperti di Jawa), kasihannya orang Timor itu berada
di paling bawah. “Apakah ini masalah? Aku masih ga ngerti. Bukannya bagus ya
aku malah berempati?”
Iya bagus dong,
cuma nanti aku akan memaksakan kondisi ideal di Timor harus seperti di Jawa:
serba ada air, sekolah bagus, jalanan bagus (ini sih oke). Tapi kadang hal ini
kelewatan seperti memaksakan pola pikir Jawa ke Timor seperti: harus makan
beras, ternak sapi untuk dijual ke orang-orang Jawa sebelum Idul Adha. Apa
bedanya dengan Belanda yang dulu datang dan memaksa Timor menanam Cendana,
gula, dan jagung untuk memenuhi kebutuhan pasar? See?
Kedua, banyak media dan beberapa jurnal ilmiah (skala global dan nasional)
menarasikan bahwa perubahan iklim berdampak pada kekeringan yang semakin parah
di Timor. Apa benar? Nama dari penduduk pesisir selatan Timor di Kawasan
Amanuban dan Amanatun adalah Atoin Meto (Bahasa Dawan dengan arti people
from the dryland). Sejak berabad-abad lalu, orang-orang di sini memang
biasa dengan iklim kering. “Emang buat mereka, perubahan iklim itu
masalah?” -tanya Randy, Ardy (duo senior ulung IRGSC, advocator ulung
human trafficking) dan Melo (jagonya enumerator yang suka telor mateng
sebelah). Iya yah. Jangan-jangan aku mengkooptasi (cooptated) narasi victimhood
ini supaya dapat funding? Akhirnya, aku pun mencoba merombak research
questions-ku, refleksi kembali, dan mengkoding scripting python and
earth engine buat visualisasi iklim dari data-data IPCC.
Ternyata,
perubahan iklim memang nyata. Berdasarkan gambar tersebut, gambar ketiga
tentang indeks standard precipitasi hujan, 10 tahun terakhir ini (2015-now) Southwest
Timor lagi ngalamin kering paling kering selama satu abad terakhir ini.
Ketiga, apakah perubahan iklim di atas the only significant problem?
Merujuk pada dua laporan peneliti Belanda, Ormeling (1956) dan (McWilliam, 1999, 2002), ada setidaknya dua isu lain. Pertama, terdapat perubahan pola
pertanian dan pangan semenjak kolonialisasi terjadi untuk memenuhi kebutuhan
pasar akan kayu cendana, budak (Hägerdal, 2010; Parimartha, 2016) (dua komoditas pasar terbesar Timor di abad 18-19), jagung, dan
sekarang beras (Tjoe et al., 2019). Dulunya masyarakat Timor yang menanam sorghum dan beternak kerbau,
sekarang (pasca kemerdekaan) berangsur beralih ke beras, tanaman palawija khas
Jawa, dan sapi, dan bahkan jualan batu (orang2 Surabaya suka batu warna untuk
arsitek rumah). Kebayang ga sih, daerah kering di Timor sekarang banyak di buka
sawah untuk padi yang notabene butuh banyak air, beberapa tempat dibangun
bendungan air. Kedua, terdapat pergeseran pola kependudukan. Banyak di bahas
oleh McWilliam (1999), bahwasanya system administrasi desa gaya Jawa (ada kepada desa,
dusun, RT, RW, dan shadow government of BABINSA) semenjak pasca
kemerdekaan (1945), merubah pola tuan raja dan tanah di Timor yang notabene
(dulunya) semi-nomaden. Dulunya, Atoin Meto memilih tempat tinggal berdasarkan
hau le’u, faut le’u (pohon, air, dan batu). Dengan adanya Jawanisasi dan
pengenalan jalan raya aspal untuk kelancaran logistik (cendana dulunya) dan
pengawasan (pemberontakan dan perang antar suku), masyarakat “dipaksakan” hidup
bergeser dekat jalan. “Jadi pertanyaan yang mungkin lebih tepat, apakah
masyarakat kekurangan air atau dijauhkan dari sumber air? Air mah su ada dari
dulu ee! Son pernah jauh ee” -tambah Dida (enumerator darah Sabu tapi
didikan Jawa).
I conclude
that what have happened and is occurring here is a kind of interplay of climate
change and political ecology, resulted in degraded changed environment. What
Mario intrigued my thought was, the Javanese have fully embraced the life of
capitalism, defined by the markets, and success is an accumulation of profits
and land. Hal yang sungguh berbeda dengan Atoin
Meto setelah menghabiskan dua bulan terakhir 2024 di pesisir selatan Timor
dengan rumah yang berasa microwave dan cikungunya. Bagi mereka, tanam
jagung, singkong, dan kopra sonde perlu banyak-banyak, cukup itu makan
sehari-hari dan diakumulasi cukup sampai musim tanam selanjutnya datang. Sounds
so truly sustainable, not destroying the earth for the sake of wealth
accumulation. Aku pernah sharing skil GIS untuk metain klorofil laut ke
salah satu mahasiswa di Timor. Skripsi mereka adalah praktikum seminggu di ITB.
Dia kaya niat ga niat dan pada akhirnya dia belom mengerti samsek, tapi dia
santuuy banget, seolah ga perlu. Dia males banget bagiku. Standard “males”
buatku ya memang terbentuk dari standar mahasiswa/i ITB yang super individualis-ambiss
dan of course, the ITBs are driving by their definition of success of
profits accumulation through their ambitious career working in oil, gas, and
tech company. Sounds like me. Probably there is no such a pressure in
Timor, oh what a life, I love it. Saking cintanya, rencana semulaku yang
hanya 2 bulan di Timor, lanjut hingga 6 bulan haha.
So, “jadi apa kalian mau calling for romantisasi kehidupan jaman
dulu yg lebih sustainable?” -tanya Clara Siagian (dosen dari ANU dan UI).
Pertanyaan simple tapi bikin bingung sebulan dan banyak misuh. Apa emang harus kembali
ke jaman dulu dan ga embracing intervensi teknologi, akulturasi budaya, dan/atau
modernitas? Is that what the locals want? Merujuk pada bukunya Tania Li (2007), upaya pembangunan sering kali dijustifikasi oleh “kehendak untuk
memperbaiki" (will to improve), di mana para planner,
akademisi, dan pejabat merasa terpanggil untuk memperbaiki kehidupan orang lain
berdasarkan standar hidup mereka sendiri. Tapi, the problem is not that
planners are evil, but that they see improvement as unproblematic.
Refleksi ini ngena banget ketika mikirin definisi ‘kemajuan’ versiku (yang tentu
saja banyak dipengaruhi realitas Jawa. Mungkin aku datang ke Timor dengan niat
baik, tapi siapa yang mendefinisikan apa itu ‘baik’? Dan untuk siapa? Kemudian,
juga mengenai tentang "kekurangan" (lack) sering kali
diproduksi oleh aktor-aktor pembangunan untuk membenarkan intervensi. Dalam
kasusku, aku juga mempertanyakan: apakah narasi tentang Timor yang semakin
kering itu sepenuhnya datang dari pengalaman lokal, atau dari konstruksi media
dan proyek-proyek pembangunan? Intervensi sering kali dibangun dari asumsi
bahwa orang lain kurang (ga modern, kurang teknologi, kurang kapasitas) dan
bukan dari pemahaman tentang kompleksitas lokal itu sendiri.
Furthermore, mungkin ga sih orang yang aku anggap “kurang” itu juga pengen
seperti diriku yg sangat embrace modernitas wkwk? Ini sesimple
pertanyaan founding fathernya IRGSC, dosen di Darwin, dan disaster expertnya
GNS, Jonatan Lassa, “jadi kalau ga kering, gada perubahan iklim, apakah masyarakat
di sana masih tetap menambang batu?” Ini bikin bingung, overthinking dan
misuh-misuh selama 2 bulan. Kenapa ya orang2 yg akademis sangat oversophisticated
nanyanya simple tapi intriguing banget? Beda banget ama Eman, Mario, dan Vito
yang suka ngomongin Marxist, Foucault, Amartya Sen tapi abstrak semuaah. Anyway,
kembali ke diskusi, ada perbedaan pandangan melihat dunia antara generasi
tua dan muda di study sites kami. While the elderly prefer the old
way of living (menanam saja sesuai hari hujan, berburu ikan), the young
express the need for income to support their daily needs: school, internet
data, modern styles. Generasi muda Kolbano (dan beberapa orang tua) akan
terus memanfaatkan tambang batu (walau kerja mereka mostly precarious).
Jika tidak ada kesempatan tersebut (yang memang kadang tidak ada), mereka
memilih merantau kerja ke kota dan/atau luar pulau.
Itulah kesimpulanku,
melihat Timor sebagai global south within Indonesia. Seperti filosofi pemancing
yang tidak focus pada hasil (outcome) tangkapan ikan tapi ke kenikmatan
proses dalam memancing (melihat pohon, bintang, menikmati angin sepoi2), refleksi
ini merupakan cerita berproses di dalamnya. Outcome? Penting sih buat support
my phd application, papernya lagi digarap Mario dkk.
Terima kasih juga
saya ucapkan ke Bang Tori (Yayasan PIKUL) dan all wonderful women: Priska
Manek, Oma Emy, Velin, Wilda, dan kawan-kawan di Yayasan HANAF yang telah diskusi,
brainstorming sampai pusing, mendampingi dan memberi semangat. Love you
all!
References
Hägerdal, H. (2010). The Slaves of Timor:
Life and Death on the Fringes of Early Colonial Society. Itinerario, 34(2), 19-44.
https://doi.org/10.1017/S0165115310000331
Healey, P. (2003). Collaborative
Planning in Perspective. Planning Theory, 2(2), 101-123. https://doi.org/10.1177/14730952030022002
Li, T. M. (2007). The Will to Improve Governmentality,
Development, and the Practice of Politics. Duke University Press. https://doi.org/10.2307/j.ctv11smt9s
McWilliam, A. R. (1999). From Lord
of the Earth to Village Head: Adapting to the Nation-State in West Timor. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 155(1), 121-144. https://www.jstor.org/stable/pdf/27865494.pdf
McWilliam, A. R. (2002). Paths of Origin, Gates of Life, A study of
place and precedence in Southwest Timor. KITLV Press.
Ormeling, F. J. (1956). The Timor Problem: A Geographical
Interpretation of an Underdeveloped Island. JB Wolters.
Parimartha, I. G. (2016). Perdagangan dan Politik di Nusa Tenggara
1815-1915. Ombak.
Tjoe, Y., Ratumakin, P. A.,
Hossain, M., & Davey, P. (2019). Disadvantaged Communities in Indonesian
Semi-Arid Regions: An Investigation of Food Security Issues in Selected
Subsistence Communities in West Timor. In A. Sarkar, S. R. Sensarma, & G.
W. vanLoon (Eds.), Sustainable Solutions
for Food Security : Combating Climate Change by Adaptation (pp. 381-408).
Springer International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-319-77878-5_19
UN-Habitat.
(2009). Planning Sustainable Cities,
Global Report on Human Settlements. Earthscan. https://unhabitat.org/sites/default/files/download-manager-files/Global%20Report%20on%20Human%20Settlements%202009%20Planning%20Sustainable%20Cities.pdf
Komentar
Posting Komentar