Kali pertama kau tanya apa dalilnya aku mencintaimu,
kali kedua kau tanyakan lagi,
apakah rayuan mautku itu shahih, hasan, atau dha'if?
Terakhir dalam kali ketiga kau mulai telusuri track
recordku,
dan aku menjadi objek dari jarh wa ta'dil.
Aku tak tahan lagi,
kau pertanyakan ke-tsiqahanku,
hanya karena aku lupa tanggal lahirmu,
aku mengelak,
aku hanya sekedar menjaga,
menjaga muru'ah sebagai syarat rawi bersikap adil.
kuajak keluarga dan para kawanku,
untuk menyakinkan dirimu bahwa aku serius,
tapi katamu...
jumlah mereka belum mutawatir.
Aku coba dekati Ayahmu,
agar sanad hati dan pikiran kami bersambung,
sehingga cinta ini marfu',
tapi katamu...
Ayahmu tak bersedia menemuiku,
seketika sanadku menjadi mursal - terputus.
Tak puas kau kritik sanad cintaku,
kau tanyakan lagi matan cintaku,
katamu kenapa aku bilang ‘aku cinta padamu’,
apalah artinya ada cinta yang lain?
Sebab yang kau ingin dari redaksiku ialah,
‘kepadamu, aku cinta’,
agar hanya dirimulah yang kucinta,
Itulah caramu men-syarah matan cintaku.
Kau ragu...
Jangan – jangan...
Matan cintaku telah,
telah dimansukh oleh matan sahih yang lain.
Aku panik,
aku khawatir...
cintaku masuk kategori mardud – tertolak,
aku mencoba menulis sajak cinta, lagi..
agar cinta ini menjadi shahih il ghairih.
Namun kau menggeleng,
Katamu cintaku dhaif,
cintaku tak bisa dijadikan hujjah,
tapi...
bukankah hadits dhaif masih bisa dipakai untuk fadhail
amal?
Jawabku membela diri.
Meskipun dhaif,
cintaku tak lantas menjadi bid’ah, ku tetap merayu,
engkau tersenyum manis,
semanis tumpukan 9 kitab hadits utama di mejaku.
Kasih,
aku mungkin dhaif,
namun aku bukanlah pria yang majhul,
cintaku bukan maudhu’,
sungguh ini tidak palsu.
Ungkapan cintaku ini,
Ibarat suci seperti hadits qudsi,
bukankah,
kau ingin cintamu dan cintaku,
menjadi muttafaqun alaih?
Kau pun mengangguk.
Sejak itu pun,
aku dan kamu menjadi shaihain.
Gus Nadirsyah Hosen,
dengan sedikit pengubahan.

Komentar
Posting Komentar