Niat liburan 3 hari menjadi bencana ketika kami tahu bahwa sedang terjadi badai di laut jawa. Takkan ada kapal yang akan membawa kami pulang ke Pulau Jawa selama beberapa hari kedepan. Namun, bukanlah bencana yang kami dapatkan, tapi sebuah pembelajaran sosial yang kami dapatkan.
Pak Subandi, itulah nama pemilik penginapan sederhana yang kami sewa untuk 3 hari. Pak Bandi merupakan orang yang sangat baik. Beliau dan kedua istrinya sering bersosial dengan kami. Mereka hidup sangat rukun dan damai. Saya juga bersosial baik dengan tetangga Pak Bandi bernama Pak Pardi.
Suatu hari saya sedang jalan-jalan di sekitar kampung mencari masjid. Saya ketemu Pak Pardi, saya diajak beliau untuk melihat sesuatu. Sesampainya di pinggir pantai, saya kaget sekali. Beliau berkata “Nanti malam, kita sama Pak Bandi pesta makan 2 ekor penyu”. Wow, sebagai orang akademik tentu saya kaget, tapi saya tak bisa berbuat apa-apa. Malam haripun, kami makan malam dengan daging penyu yang begitu lezatnya dengan rasa yang penuh pekewuh.
Selama terdampar di Karimun Jawa, kami selalu berusaha menikmatinya walau dengan budget yang sudah nol persen. Saya tak pernah bosan menghabiskan waktu dengan melaut bersama Pak Bandi serta Pak Pardi. Saya suka duduk diujung perahu bersama Pak Pardi. Beliau mengajari saya teknik diving yang benar, saya pun langsung mencobanya bersama Pak Pardi di tengah laut. Wow, saya langsung berhasil, kami langsung bisa terjun sedalam 8 meter! Pak Pardi juga mengajari saya memanah ikan menggunakan panahnya, namun saya tak juga bisa melakukannya dengan baik. Lantas saya bertanya tentang 2 ekor penyu yang didapat. Beliaupun bercerita dalam bahasa Jawa. Beliau tahu kalau saya sebagai anak akademisi tentu dilarang berburu hewan tersebut, namun ketika dalam kenyataan ekonomi tidak baik, cangkang penyu bernilai sangat tinggi. Saya sadar seketika itu, saya bertanya dalam benak apakah keluarga saya juga bakal begitu? Saya sadar ekonomi keluarga saya termasuk kurang. Apakah ekonomi dapat membuat kita buta akan akademik yang telah kita dapat?
Saya sadar Pak Pardi dan Pak Bandi hanya lulusan SD. Tapi saya tahu bahwa di SD kita sudah diberitahu hewan langka mana yang tak boleh diburu. Saya melihat Pak Bandi dan Pak Pardi selalu mengandalkan hasil laut sebagai penopang ekonomi keluarga mereka. Mereka sudah melupakan pelajaran SD demi menghidupi keluarga mereka. Pak Pardi pun lanjut bercerita tentang hasil laut yang tak tentu dan cuaca yang buruk. Merekapun terkadang hanya makan ikan asin dan mengharapkan para wisatawan yang hadir. Beliau bercerita betapa beruntungnya kami live in di rumah Pak Bandi yang begitu baik, ikhlas membantu kami walau kekurangan, dan bisa hidup damai dengan kedua istri beliau.
Saya sadar akan ilmu dan skill laut yang saya dapatkan. Saya pun mengajak teman-teman supaya membantu mengajari 2 anak Pak Bandi yang masih SD. Dari pengalaman tersebut saya mulai sadar akan ekonomi yang bisa membutakan pendidikan. Saya takut jika hal tersebut terjadi pada keluarga saya. Jika Karimun Jawa saja yang dekat dengan pembangunan Indonesia yang javasentris seperti itu (listrik hanya 12 jam, sekolah hanya ada SD dan SMP, bahan bakar kapal mahal), bagaimana dengan pulau – pulau terluar Indonesia?

Komentar
Posting Komentar