Langsung ke konten utama

Menengok Harapan Tetua


Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah dosa setiap orang terdidik yang dimiliki Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan”, Anies Baswedan.


Pendidikan merupakan salah satu motor untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, baik melalui pendidikan formal, informal maupun non-formal. Dalam meningkatkan sistem pendidikan, ada empat hal yang mesti dipenuhi sebelumnya yaitu sistem pendidikan yang komprehensif, guru yang berkarakter, peran pemerintah, dan kesadaran masyarakat. Mengacu pada pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003, bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat…” (Widuroyekti, 2014).

Namun apakah fungsi pendidikan tersebut sudah terpenuhi semuanya? Apakah sudah bersinkronisasi dengan pemerintah? Melihat dari slogan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 adalah kerja nyata kemudian dilanjutkan dengan kerja bersama pada HUT RI ke-72, apakah semua masyarakat Indonesia dididik untuk menjadi pekerja? Apakah dengan tujuan pendidikan kognitif bangsa ini akan menjadi mental pekerja? Bagaimana dengan mental nenek moyang kita yang merupakan penjelajah samudra, apakah saya sendiri sudah memakai jas merah?

Saya yakin kita sebagai mahasiswa tentu mengetahui tentang bonus demografi. Menurut survey BKKBN tahun 2017, pada tahun 2016 jumlah usia produktif masyarakat Indonesia (15 – 64 tahun) adalah 67 persen. Puncak dari era bonus demografi ini akan dicapai ketika jumlah penduduk usia produktif berada pada angka 70 persen dari jumlah penduduk total yang menurut proyeksi BPS dicapai antara rentang tahun 2025-2030. Namun, apakah saya sendiri sudah menyadari hal ini?

Tujuan dari pembangunan Technicshe Hoogeschool tahun 1920 adalah memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Namun, apakah ITB masih mempunyai tujuan yang sama pada 2017? Memang tidak serta merta saya menyalahkan mereka yang berkuliah untuk menjadi kuli – kuli perusahaan asing yang hanya memberikan secuprit uang. Yang saya sayangkan adalah banyak dari mereka (termasuk saya) yang kurang peka terhadap sosial realita yang terjadi di sekitar kos atau kontrakan mereka dan lebih memilih menjadi panitia OSKM serta mendapatkan link banyak untuk kerja mereka kedepannya.

Sebelum melihat yang jauh, lihatlah dari yang dekat. Sebelum ke Pulau Rote atau Natuna, mari tenggok sejenak di Karimun Jawa, sebuah pulau 80 km di utara Jepara, Jawa Tengah. Dalam ekspedisi sosial informal saya dan 6 kawan pada seminggu terakhir April 2015, kami mendapati listrik di sana hanya 12 jam, padahal sumber energi angin sangatlah berpotensial. Puji Tuhan, tim Meteorologi ITB sekarang sudah memasang stasiun penelitian walaupun hanya sebatas AWS. Bagaimana dengan pendidikan di sana?

Di Karimun Jawa, pendidikan formal di sana hanyalah sebatas sampai SMP. Mayoritas masyarakat di sana tentulah nelayan. Anak lulusan SD saja sudah berani melaut mencari nafkah untuk keluarga. Bagaimana dengan saya yang masih merengek meminta uang jajan bulanan? Pak Bandi, tempat saya live in suatu hari mengajak saya untuk berjalan di pinggir pantai. Beliau menunjukkan saya bahwa beliau habis menangkap 2 ekor penyu besar dan nati malam akan diadakan pesta makan penyu. Pada awalnya kami bertujuh tidak percaya sampai suatu malam Pak Bandi sudah menyuguhkan gulai daging penyu beserta mangkuk tempurung besar. Secara budaya jawa, tidak mungkin kami menolak walaupun kami sebenarnya anak berpendidikan.

Pagi buta pukul 3 pagi saya berangkat ke laut lepas bersama Pak Bandi. Sesambi bercerita saya bertanya tentang penyu yang kami santap semalam. Tanpa pikir panjang Pak Bandi langsung bercerita keadaan ekonomi mayoritas masyarakat di Karimun Jawa. Bensin buat bahan bakar kapal saja mahal, 20 ribu untuk satu liternya, tangkapan ikan selalu menurun tiap tahun, bagaimana bisa Pak Bandi dan yang lain melepas penyu yang tempurungnya saja bernilai besar. Sebagai lulusan SD, Pak Bandi juga tahu mana saja makhluk laut yang hampir punah, namun semata – mata alasan tersebut hanyalah ekonomi.

Secara geografis, letak Karimun Jawa sangatlah dekat dengan pembangunan nasional yang cenderung javasentris. Jikalau pulau seperti Karimun Jawa saja masih jauh dari kata pembangunan, bagaimana dengan pulau – pulau terluar Indonesia seperti Natuna atau Rote? Apakah bakal berakhir seperti Sipadan dan Ligitan? Padahal pada dasarnya pulau – pulau terluar kita merupakan pintu pertahanan negara.

Yang saya sayangkan adalah kenapa saya masih berpikiran egois untuk sekedar lulus dari ITB dan bekerja di perusahaan asing. Menjadi orang banyak harta memang gampang membantu orang lain seperti memberi modal usaha. Namun apakah cukup sekadar memberi layaknya pengemis tanpa membantu perkembangannya? Seperti membangun sanggar tari di Cipakem?

Sindiran saya atas kegiatan KKN-T ITB merupakan salah satu bentuk hasil pendidikan kognitif Indonesia. Banyak masyarakat yang suka berkomentar tentang kegiatan orang lain tak peduli itu baik atau buruk. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Dr. Asep Sofyan (2017) bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah kognitif yang masih belajar banyak ilmu pengetahuan sehingga wawasan kita luas, serta saling berkomentar adalah hal yang lumrah.

Sebagai warga pelosok pesisir yang mendapatkan bidikmisi di ITB, tentu saya mempunyai tanggung jawab yang besar untuk meningkatkan derajat hidup masyarakat kelas ekonomi rendah, khususnya nelayan. Dalam 10 tahun terakhir, pekerjaan nelayan sebanyak hampir 50% hilang, dari 1,5 juta orang menjadi hanya 870an ribu orang. Banyak dari mereka yang merantau di perkotaan, menambah angka kemiskinan di perkotaan, menjadi babu kota. Ilmu hilang, ketakutan ekonomi semakin mencekam, pendidikan pun terbutakan (Susi Pudjiastuti, 2017). Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Tentu teknologi kapal nelayan kita masih kalah jauh dibanding negara tetangga.

Kita sadari bahwa jika semua generasi penerus bangsa bermental pekerja tentu bonus demografi merupakan momok yang menakutkan. Jurang pengangguran akan dibuka seluas – luasnya. Kebuasan binatang akan terjadi di kota maupun desa. Bagaimana kita dapat membalikkan keadaan ini seperti Korea Selatan dan China?

Jika China merupakan negara eksportir terbesar khususnya teknologi, Korea Selatan lebih terkenal dan maju karena budaya K-POPnya. Padahal untuk SDA, Korea Selatan sangatlah miskin. Sebaliknya dengan Indonesia yang sangat kaya akan SDA. Oleh karena itu pemerintah sudah memberlakukan pengolahan bahan mentah sebelum diekspor. Disisi lain Indonesia masih buruk dalam hal logistik, oleh karena itu pemerintah sudah memberlakukan tol laut. Bagaimana dengan SDM Indonesia?

Kembali ke pendidikan, tentunya kita berharap para generasi penerus bangsa ini akan lebih bermental pengusaha. Pemikiran kreatif tentu sangat diperlukan. Mengenal potensi bangsa sendiri sangatlah penting. 66,6 % bagian Indonesia adalah laut. Potensi bangsa ini adalah kemaritiman. Jikalau saja kita dapat membangun pelabuhan terbaik di Sabang atau di Medan, saya yakin Singapura akan mati. Jika saja logistik Indonesia melalu jalur laut sudah merata, tentu perataan pembangunan akan mengikuti, pulau – pulau terluar pun akan hidup.

Sebagai calon oseanografer Indonesia yang suka memakai jas merah, saya yakin ini adalah jalan yang singkron. Kontribusi saya untuk membangun bangsa adalah meratakan penyaluran logistik. Dengan majunya penyaluran logistik, hal itu akan berbanding lurus dengan pendidikan. Serta hal tersebut sesuai dengan harapan nenek moyang Indonesia sebagai penjelajah dan perdagangan laut (Sriwijaya, Majapahit, dll).

Yang menulis di sini tidak lebih baik daripada pembaca,

Salam hamemayu hayuning bawana

Pustaka Foto;
https://dokumen.tips/documents/analisis-algoritma-k-means-clustering-menggunakan-openmp-libre.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

How climate change adaptation produces inequality

According to Asia's fact sheet from IPCC (2022) , cyclones, floods, and typhoons have displaced 9.6 million in South, Southeast, and East Asia in 2019, or about 30% of total global displacement. This phenomenon will worsen as IPCC found that climate change in the form of rising temperature increases the floods in monsoon regions like Southeast Asia. Together with the heat stress, the fact shows that surges will highly likely harm food availability, resulting in undernourishment. In 2020, the floods combined with sea-level rise had increased the risk of 30,522 lives in Kuala Lumpur (Malaysia), Jakarta (Indonesia), and Ho Chi Minh (Vietnam). Furthermore, an additional 10,830 people will also be at high risk in 2035 (IPCC, 2022) . In Indonesia, the destructive impacts of climate change on the coastal sector, sea-level rise, will be responsible for 70.82% of the potential economic loss in 2024 for approximately 5.45 billion USD (National Development Planning Agency, 2019) . The most ...

Australia Safeguard Mechanism’s Impacts on Economy

  Executive Summary      Australia sets a target to reduce emissions from 621 MtCO 2 -e in 2005 to 354 MtCO 2 -e in 2030 (DCCEEW, 2022a) . However, under the current effort, it is probable that Australia will emit 390 MtCO 2 -e in 2030 (DCCEEW, 2022b) . As deeper cut is fundamentally required, the Albanese government has just reformed the safeguard mechanism to further pressure the carbon emitters business to adhere closely to the Australia’s goal by strictly limit their caps. To achieve the national goal, it is expected that the new emission cap will be progressively tighten at least 4.9% per year (DPMC, 2023) .      The mechanism is criticized as a ‘toothless tiger’ since emissions from fossil fuels-related industries ironically grow up (ACF, 2022) . Since 2005, the sectoral emission trends in stationary energy, transport, and fugitives have increased 27.4%, 13.2%, and 14.1%, respectively due to continued growth of production and export...

Timor, A Global South within Global South

  Beta percaya refleksi tu bagian dari co-production of knowledge . So, this is my reflection of my latest six-month research in Timor. What is a global south? Firstly, let’s talk about what planning is . Planning atau perencanaan merujuk pada (UN-Habitat, 2009, p. 3) adalah upaya kolektif orang-orang untuk intervensi alam dan mengubahnya menjadi sebuah tempat atau kawasan yang sesuai dengan tujuan kolektif tersebut, khususnya dalam konteks sosial, politik, dan lingkungan. Tentu dalam perencanaan tersebut, banyak multidisplin yang terlibat termasuk masyarakat itu sendiri, pemerintah, dan para investor. Kalau kita gali lebih dalam, terdapat 5 aspek dalam perencanaan (Healey, 2003) : orientasi mengenai masa depan dan aksi-aksi sekarang akan mempengaruhi potensi masa depan, fokus pada kehidupan dan keberlanjutan untuk orang banyak (bukan hanya beberapa kalangan), keterikatan dan kesinambungan antara satu rencana ke kejadian yang lain, fokus dalam pengembangan pengetahuan aksi publ...