Malam sunyi senyap menyelimutiku sembari tersenyum melihat bimo Asensio mencetak gol keempat untuk membawa Real Madrid memenangi Liga Champions Eropa untuk keduabelas kalinya. Di malam dini hari tersebut membuatku berpikir apakah keputusanku tepat untuk menambah pengalaman sosial di lembar kehidupanku. Kujawab ‘ya, aku akan memberikan 3 mingguku untuk sang dewa ganesha’ ketika Sergio Ramos mulai mengangkat trofi la duodecima.
*
Tiba – tiba aku melihat kakak beradik, Sumbing dan Sindoro di atas gelombang awan dan seketika itu aku sadar bahwa aku sudah mendekati wilayah daerah kekuasaan nenek moyangku, Ngayogyakarta Hadiningrat. Ciiiit, bunyi roda karet burung besi berbunyi sembari mencium aspal Adi Sucipto yang hangat bekas terpapar Sang Surya selama setengah hari. 9 sekawan coboys telah duduk di atas avansa putih menunggu Sang Pangeran Kulon pulang membawa soju dari Negeri Yajuj Majud. Mustakaku yang sedang pening jetlag bertambah ketika coboys menculikku ke kaki Gunung Ungaran, Semarang. Pusing, panas, ditambah hawa sedingin es gunung akhirnya membuat suara gemeritik di gigiku. Yang terbaik memang cap orang tua di oplos dengan soju serta kopi ireng.
Esok hari aku sudah kembali lagi ke Wika Mewah - Jogja, sebuah tanah ningrat yang dijaga oleh demang yang tidak lain adalah romoku sendiri. Nikmat singkong goreng ditambah teh panas sembari melihat burung – burung berdecit menikmati butiran padi seakan mengingatkanku bahwa ini semua adalah mimpi, namun nyata. Hanya sehari aku didekap demang dan raden ayu yang aku sayangi, hingga aku sadar bahwa aku harus mengabdi lagi ke kaum sudra.
*
Bermodalkan blankon sunda, aku mengingat pesan Sang Hyang Romo Kakung untuk selalu membuat ikatan saudara di mana pun berada. Seperti kilat memang, jiwa muda yang selalu ingin dijunjung ini memang tak bisa diredam, namun kali ini berbeda.
Ketika terjadi pertemuan yang dipisahkan oleh jurang pendidikan, aku berhasil turun ke bawah membuat tangga sendiri untuk menarik mereka daripada membuat sangar tari. Tengah malam di serambi penyembahan Tuhan, Kang Mumu mulai melempar mercon kenapa Sang Gadjah Ijo lebih memilih minum air dari Sang Kuwu dan sudranya untuk membuat joglo kecil di dekat pasarean leluhur daripada jus manis pemikiran golongan muda. Aku tak bisa berbuat apa – apa, karena aku cuma babu dari Gadjah Ijo, ikut pemikiran atas yang terkesan formalitas. Seketika itu, aku sadar memang informal sociality project lebih nikmat daripada hidup di bawah tekanan formalitas.
Hampir setiap Sang Surya beristirahat, aku selalu melepas jaket lumutku untuk turun dan mencoba memberi penerangan jalan tangga ke atas. Di bawah aku melihat Kang Mumu, Agung, Rashdi, Akbar, Ilham mencoba membuat elevator dari bambu rapuh yang ku tidak tahu kapan selesainya untuk para otak pasir besi naik ke atas. Di sisi lain ku melihat para janda mencoba menumbuhkan bunga – bunga pareredan di dasar jurang tanpa cahaya Surya Kehidupan.
Angan – angan naik ke atas bersama harumnya bunga – bunga pareredan memang akan selalu mencoba untuk hidup di tengah derasnya lumpur yang gelap, segelap transparansi dana desa. Tiba – tiba terdapat komet terang yang lewat sekilas menerangi jurang. Beberapa manusia yang rela dan akan selalu mampir untuk membangun semangat benih – benih penerus pemimpin merah putih.
Sujud syukur selalu aku panjatkan kehadirat Gusti Pangeran karena terlahir di tengah kaum membumi. Seperti terjun ke bumi daripada aku di Bandung yang selalu melangit. Kenyamanan ini memang bukanlah hal baru, namun selalu terasa spesial. Satu per satu saudara/i satu temaku terpleset terjatuh ke jurang tak sampai hati melihat bayi – bayi yang tak bersalah yang mencoba survive di tengah kerasnya arus gelombang lumpur yang gelap.
*
Kebencianku mulai memuncak ketika aku sadar aku mulai mengangkat beton tekanan hidup di pundak label mahasiwaku. Terasa sangat berat kebencian ini hingga aku menyerah untuk menggapai puncak pohon kelapa. Untung ada Kang Yunus yang setia menemaniku, melepas penat di pundak sembari memanjakan mulut dengan pesingnya air degan muda.
*
Kami pulang aaa, tanpa dendaaam aaa.. akhirnya kami tim lumut berhasil meracik vitamin bersama pengrajin bambu. Kami beri imunisasi baru untuk para bayi tak berdosa untuk merasakan arti dosa sesungguhnya. Manis memang, tapi pahit. Semakin mereka meminta lebih, semakin pahit yang kami rasakan. Kami hanya bisa memberikan skill berenang dan mencoba menawari mereka untuk lihat ke atas melalui tangga yang kami buat. Mungkin mereka merasa tak pantas ke atas karena basah kotornya baju mereka kena lumpur, namun mereka tak sadar bahwa lumpur di baju kami sudah menjadi kering dan akan lebih susah dibersihkan.
Memang tak bisa menyalahkan jiwa muda yang selalu semangat. Namun terkadang kita lupa mengambil nafas terlena dengan kehidupan bawah samudra yang asyik mematikan. Tangis, tawa, kopi itam, dan bau tembakau bakar menemaniku malam itu. Sembari dengan sombongnya aku membawa imajinasi pengrajin bambu ke dunia nirwana. Terkesan memang. Tak sadar kami mencicipi air asin dari jendela dunia. Aku berikan sayap Gadjah Ijoku agar mereka sesekali terbang ke atas, ditambah blangkon sunda supaya mereka tak lupa tanah. Aku diberikan keris bambu jawa bertuliskan jurang pemisah dengan Sang Sudra. Tak lupa mereka memberikanku beban topi berat yang harus kupikul selamanya. Namun, aku akan selalu terhibur karena adanya pantulan wajah polosku dari cermin kertas Kang Mumu.
*
Sedih, karena aku tak bisa membuang taiku lagi ke Sang Janda Tua. Terlalu nikmat aroma itu untuk dinikmati berempat. Bahkan aku tak bisa menangis gegara hal itu. Dalam hati kuterasa tenang, karena akan kubawa sendiri taiku.
Senang dan bahagia ketika mereka berhenti memberikan beton di pundakku. Saatnya aku melangit lagi. Kuharap mereka bisa membawa beban mereka sendiri melalui tangga yang kutinggalkan atau elevator bambu. Kuharap bunga pareredan dapat tumbuh dengan bermodal linangan air mata.
*
Macet, dingin, panas, kesendirian membuat berpikir bahwa gantung diri itu logis. Kuputuskan untuk keluar dari gang sempitku berjalan di atas tulang mudaku, melihat para manusia bercengkerama sesama di Pasar Simpang selalu bisa membuatku tersenyum. Trotoar yang sepi, tak pernah terinjak oleh pembuatnya sendiri membuatku tak sadar berjalan sendirian di tengah depresi supir mobil yang depresi. Tak terasa aku sudah di depan anus dewa ijo.
Setiap malam, aku selalu bermimpi, mimpi yang nyata. Bayi – bayi yang tak berdosa kini sedikit demi sedikit telah mengenal dosa gegara vitamin yang pernah kuberikan. Mereka selalu menerorku tiap malam, mengingatkan bahwa aku punya sesuatu yang berat yang harus kujunjung, kupikul mencari pertolongan.
Benci, tapi rindu. Abdi bogoh kasalira. Cipakem, jangan pernah berhenti memiliki bimo ku hingga ujung waktu
Serapuh kelopak sang mawar,
yang disapa badai,
berselimutkan gontai,
saat aku menahan sendiri,
diterpa terluka oleh senja,
semoga sang mawar dijaga,
matahari pagi,
bermahkotakan embun.
SO7 ~ Hingga Ujung Waktu
Salam hamemayu hayuning bawana,
12915013
Komentar
Posting Komentar