Api perlahan membakar
harapan petani
Petani bangsa yang
berharap bangkit dari kematian
Tulang pipi muda
perlahan hidup
Bangkit dari hangatnya
dekapan kulit muda
Seiring kubakar
harapan petani lereng tiang langit
Sejalan lurus dengan
harapan bumi pertiwi
Bersama kepulan
putihnya hitam
Menjadikan asa yang
ditunggu harapan bangsa
Sorot senter aki tua hidup
bersaing diantara bintang gelapnya Bumi Pasundan. Menandakan sang kaki tua
perlahan mendaki tangga penyembahan. Ku pun bergerak pelan berjalan ngalor ngidul, sisa kehidupan duniawi
semalam. Mencoba hidup tuk ingat Sang Gusti yang telah memberikanku script program dunia, sembari memetik
indahnya bunga tidur bagi para kerbau sekasur. Dinginnya air awiligar menghambatku tuk gapai
kemenangan. Namun, tak menyurutkan niatku tuk melaju menyapa indahnya embun
sebelum bangkitnya para babu kota. Aku masih hidup, sadarku.
Geulisnya bintang malam sunda mati seiring dengan bangkitnya
lentera di atas awan. Menyuguhkan sarapan semangkok gugusan tiang langit selatan
paket Kota Kembang. Walau setiap pagi kurasakan hal yang sama, ku tetap takjub
dengan cita rasa Sang Gusti yang tak pernah bosan menyuapi langkahku. Cemilan
tembakau kering yang terbakar dan sedimentasi kafein panas, tercampur rata
akibat arus heterogen kehidupan, serta menjadikan konspirasi paling sempurna
bagi makhluk fana seperti diriku.
Pagi itu aku membuka pintu kamar
kuning kekasih. Ku naiki sang pujaan hati, kunikmati betapa halusnya punggung
kekasih yang mulai menua, dan berkali – kali kugenjot ke bawah hingga ia hidup
tuk menikmati gelap indahnya dunia bersamaku. Kuajak dia keliling perumahan
kebun binatang kota mati. Mendengarkan curhatan saksi bisu pagar besi, atas hilangnya
senyum sapa dikala Sang Fajar menyongsong. Mendengarkan curhatan saksi bisu
pagar besi, atas kebisuan penghuni kandang. Mendengarkan curhatan saksi bisu
pagar besi, akan mereka yang hanya peduli isi perut, buta akan busuknya tai
mereka sendiri. Apalah arti merdeka hidup dengan batasan? Apalah arti manusia
hidup dengan batasan?
Namun ku masih bisa tersenyum
lebar dikala sang pujaan hati tidak mau lagi bicara. Sembari kubuka helai bajunya,
sembari ku cumbu mesra buah businya, sembari kugenjot lagi, hingga ia mendesah
keras menjawab sapaan sang tetangga yang ternyata belum hilang. Semakin dalam
kutarik gas kekasih tuaku, semakin keras pula desahannya. Anehnya, semakin
keras pula sapaan sang tetangga terhadapku. Dan beliau akan selalu menyapaku
hingga aku pergi meninggalkan beliau. Dasar anjing!, gumamku. Tapi selalu ku
lempar senyum terhadap sapaan tetanggaku yang takkan pernah bisu itu. Siapa tahu
si penghuni kandang nan geulis akan keluar
dan melihat senyuman manisku.
Hidup berasa sepi
Hidup berasa fana
Mati akan sebuah kehidupan
Mati akan sebuah senyuman
Aku tak bisa hidup dalam kandang,
aku harus bebas berekspresi. Kutinggalkan kandang lamaku, mencari tempat
bermimpi yang indah bersama jutaan sel putih calon penerus kehidupanku. Kumantapkan
langkah kekasihku, menembus berbagai ruang sempit untuk mencari kehangatan
hidup dunia, dan mencoba membangun pondasi keakraban kontrakan berkah dengan
peradaban sekitar. Hingga sampailah aku dan sang kekasih di ujung jurang yang
paling dalam, yang kusebut sebagai Tubis XV.
Masih hangat di ingatanku ketika
ku mulai berjalan masuk memasuki sebuah kompleks elit nan mewah. Ku bergumam
bersama sang kekasih kenapa para manusia ini membuat kandang mewah hanya untuk
kehidupan domba balap? Saking gregetnya
ku berharap bisa menyantapnya dalam bentuk makanan China bernama Sheng Shu (tongSheng aShu). Ugh, mungkin
memang itulah kehidupan si babu kota yang tak pernah punya cermin, selalu
percaya kepada domba balap untuk
menjaga kefanaan hartanya. Mungkin juga, inilah salah satu penyebab anggapan pengangguran
sebagai sebuah bentuk pekerjaan manusia. Mungkin lagi, anggapan ibuku benar. Jika
kau ingin melihat derajatmu, lihatlah orang – orang di sekelilingmu. Untung sekelilingku
adalah manusia, walau sejujurnya ku tak pernah merasa pantas menjadi seorang
manusia.
Kuputuskan untuk hidup ditengah
peradaban gang sempit, menikmati tai kucing tetangga yang selalu berserakan,
menikmati sorakan mimpi calon pemimpin bangsa di setiap sore, mencium harum
manis sampah tetangga, selalu meminjamkan sepatu kepada tetangga tanpa tahu
siapa dan kapan dikembalikan, hingga meminjam korek pemuda sebatas hanya ingin
ngobrol semata. Tiap pagi ku sapa tiap calon pemimpin bangsa, tiap pagi asupan
senyum selalu melebihi hal yang sewajarnya, tiap pagi kunikmati senyum pemungut
sampah yang memulai harinya tepat di samping tembok tempat ku bermimpi, dan
hampir setiap sore sang janda tua renta selalu menawariku makan walau belum
pernah ku ambil kesempatan itu.
Sejujurnya ku tak pernah merasa
sendiri. Selalu saja setiap mentari bangun, selalu ku sambut dengan senyum
bahagia melihat semangat calon penerus pemimpin bangsa berangkat bersama menuju
batu lompatan derajat kehidupan. Hanya satu yang kucoba rajut dalam hati
mereka, jangan lupa tanah. Hampir setiap pagi selalu kudendangkan,
Aku masih seperti yang dulu
Mendukungmu sampai akhir hidupku
Kesetiaanku tak luntur
Hatiku rela berkorban
Demi kebanggaan kau dan aku
Biarkanlah aku memiliki
Semua cinta yang ada dihatimu
Apapun kan kuberikan
Cinta dan pengorbanan
Untukmu kebanggaan selalu
Hari ini tak mungkin kamu sendiri
Bernyanyi ku kan bersama semangatmu
Lantang nyanyian kan selalu kau rasa
Ku ingin kau menang
Neckemic – Tak Mungkin Sendiri
Namun
apakah aku akan selalu kuat menampung semua beban tekanan kehidupan atas label
mahasiwaku? Memang nikmat ini lebih dari sekadar tembakau bakar yang setiap
hari kukepulkan di bawah tanah merah tempat ku bermimpi. Semakin nikmat yang
kurasa, semakin pilu nyeri di bahu. Tapi memang inilah ku sebut kehidupan
hakiki.
*
3
minggu sehabis ku berenang – senang bersama ABYB di sumber air yang pakem, semakin terasa liku kehidupan di
hati. Satu hal pertanyaan yang selalu kuingat, kapan aku akan kembali lagi. Apakah
aku sanggup bertahan dengan idealisku yang selemah ranting terinjak oleh
materi? Tak apalah jadi ranting, daripada menjadi pengemis kertas hijau demi
sesuap nasi setiap hari. Maaf ya, aku masih bisa makan bukan karena materi.
Kumantapkan
langkahku menerjang dentuman tangis langit ke bumi. Ku lewati lorong – lorong jurang
sempit yang selalu memberikan kehangatan sebelum melepasku menaiki jurang
menuju kehidupan yang elit. Cahaya mulai kelihatan ketika kuharus melangkahkan
kaki melewati pagar – pagar indah besi khusus untuk manusia yang tak sempurna
karena kebisuan tulinya. Hanya senyum kecil karena ku merasa sempurna, walau
aku sebenarnya tak beda jauh dengan mereka. Gonggongan sang tetangga kembali
terdengar menyapa diriku, seolah memberikan garam pada air laut.
Dari dasar
jurang mendaki menuju puncak. Setelah ku nikmati karya seniman pagar besi,
saatnya ku harus melepas keegoanku hanya untuk menyamar, melepas jiwa almamater
hijau tuk menyatu dengan indahnya senyum para pembantu rumah tangga yang
mencoba menurunkan harga. Dengan lambannya, dengan penuh keraguan, mereka
melangkahkan kaki yang membuat ku selalu menghitung waktu di tangan. Namun,
sejujurnya aku selalu menikmati momentum ini. Senyuman, keramahan setiap insan
yang tak pernah hilang karena adanya hukum alam kekekalan momentum. Senyuman,
keramahan yang selalu memenuhi nilai delta G yang negatif, menandakan
spontanitas. Senyuman, keramahan yang tak pernah lekang oleh waktu. Selalu ku
sempatkan tuk lewati keramahan ini sebelum ku harus menghadapi fananya
kehidupan kampus yang katanya terbaik bangsa.
Setenang
hamparan sang embun
Yang
membentuk setetes sejuk
Tanpa
pernah kusadari
Selalu
menyelimuti hijaunya daun
Dari
terpaan angin pagi yang dingin
Langkah ke langkah ku terjebak dalam
senyuman. Senyuman yang mencoba melawan ganasnya ombak pengguna aspal hitam. Kuberanikan
diri melangkah sembari melempar senyuman tuk gapai seberang jalan. Kali ini
yang kurasakan benar bedanya. Tak ada lagi senyuman penawaran harga materi yang
selalu kudengar sebelumnya. Hanya ada gedung – gedung pencakar langit, yang
berharap hujan berupa materi kehidupan. Tempat – tempat di mana si babu kota
mengabdi. Tak ada lagi sapaan yang kudengar, hanya ada curhatan hati materi pengguna
jalan yang saling bersahutan. Menandakan kerasnya kehidupan dan tekanan yang
mereka jalani.
Mengejar waktu dengan ego, menangkap
burung di ujung ranting. Bukan hanya kebisuan yang mereka kantongi, namun
terselip jua rasa pahit kebutaan hidup. Mereka yang hanya selalu melangkah melihat
kedepan, tanpa melihat kedepan, waton
tebras. Gusti memang adil. Jika hanya ada adu depresi di atas panas
kerasnya aspal hitam, ku masih lihat adanya sebuah rangkaian ranting putih yang
amat rapuh, terbungkus oleh keriput tipisnya epidermis, yang selalu tersenyum
ke arahku. Sapaan hati yang bisa kudengar jelas, mengajak calig untuk meneguk setetes penghilang dahaga.
Salam hamemayu hayuning bawana.
Komentar
Posting Komentar