Terbesit rasa untuk kembali
pulang. Selalu. Kenyamanan masa lalu disaat masih bersatu dengan alam. Rebahkan
lelah tubuh di antara ilalang hijau petani berdikari. Setiap sore, menerbangkan
mimpi bersama rakitan layang dan angin. Ditemani kehangatan tepung kedelai
jamur goreng dan rasa pedas tinggal petik. Soreku nyaman dengan manja-Mu.
Lalu, aku belum kenal realita,
masih kenal dengan fana dan imajinasi. Belum tahu cita – cita, hanya sekadar
mimpi. Mimpi bayang rendah yang dengan mudahnya tersapu semprotan orang desa. Untungnya
ku masih punya sosok nyata yang masih menunjukkan rute jalan yang tepat, Sang
Ibu memang yang terbaik. Hingga akhirnya ku bisa dan berani memberi keputusan
sendiri.
Kuletakkan rindu di atas meja
kehangatan akan pelosok hijau desa yang permai. Nilai kehangatan di setiap
sudut jalannya. Setiap ewuh yang
selalu sinom bersama pemuda – pemudi
lainnya. Bertukar cerita, mempererat jalinan kasih gotong royong. Setiap lelayu yang selalu berumba rampe bersama yang lain. Bertukar cerita, merasakan
kesedihan rasa juang gotong royong. Apapun bentuk kebersamaannya, senyum tetap
merangkulnya.
Tak ada istilah tak kenal maka
tak senyum. Tak kenal, maka tersenyumlah. Ya, nilai itu yang mungkin dianggap
sebagai keramahan berbalut kebodohan yang tak kenal malu. Tapi aku bangga, aku
bangga akan budaya itu.
Kita tersenyum bukanlah karena sedang bersandiwara
Bukan karena senyuman adalah suatu kedok
Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib, dan kehidupan
WS Rendra,-
Kuanggap 17 tahunku telah
berhasil mencerminkan diriku yang berjiwa feodal istimewa. Lalu kurasa – rasa,
waktu ke waktu, kurakit manipulasi nilai reportku
agar kubisa memperluas zona nyamanku. Dengan keputusanku dan dukungan dari
Tetua, kutinggalkan kapal masa kecilku yang berlubang dan di ambang
ketenggelaman, menuju Taman Ganesha.
*
Dingin mengepung diriku yang
semalaman terjaga menikmati ekor Bimasakti dari ujung cakrawala. Kini telah
berganti dengan lembayung senja dari ufuk timur. Hangatkan diriku wahai Sang
Surya Dunia! Terlihat payung kabut yang mulai mekar menyelimuti rutinitas Kota
Kembang. Dibalik itu semua, tumbuh jamur – jamur kapital borjuis yang siap
menindas manusia – manusia lemah pengguna jalan atas nama kemacetan. Sayangnya,
manusia lemah mempunyai mimpi tuk jadi penerus kaum kapital borjuis. Siklus opresi
yang memang wajib dirajam!
Kucuriga akan mentari yang selalu
menatapku. Mungkin dia kan jadi saksi akan prasangka burukku akan ciptaan
Tuhan. Kuputuskan tuk berjalan searah angin semilir menuruni lereng gunung.
Rintang – rintang dedaunan melambai menyambut kepergian diriku. Hanya senyum
dan air seniku yang bisa kuberikan tuk mereka sebagai kenangan.
Baru saja hampir 3 tahun ku coba
anggap ini adaah tempat khayalan surga. Dengan kemegahan dan kemajuan sektor
ekonomi, hampir semuanya seperti kambing
balap yang berlomba demi seonggok daging busuk. Untung aku mau berusaha
menjadi manusia yang mau berpikir, walau rintih jiwa selalu menjerit tak
terima. Ku coba tuk tak gugur dan terbunuh.
Mungkin jamur – jamur kapital
borjuis telah merambah parasitisme ke lumut – lumut hijau belalai beralas
pendidikan tinggi. Membentuk gedung – gedung anteridium dan arkegonium yang
mewah. Menyebarkan benih – benih spora yang kan berkecambah menjadi protonema
yang menempel parasit pada inang mahasiwa. Memikat dan menarik para putra
daerah ke dalam lumbung elitibilitas dan eksistibilitas. Tenggelam? Hingga
mungkin lupa akan rasa nikmatnya menjadi anak petani. Ataukah hanya sekadar
lupa jalan pulang?
Menarik memang. Modernitas?
Ah kapan ya aku pintar menangkap
momen seperti Mas Nara?
Ku masih di sini dan tetap di
sini, kulewati senja demi senja. Hujan demi hujan. Jamah demi jamah langkah
kaki kukecap. Kulihat sang bapak tua bertopi hitam legam mencoba mendayung –
dayung, menerjang ,dan menyusup arus aspal hitam panas kemacetan. Duduk di atas
tumpukan berbagai jenis barang buang busuk berkotak kuning. Namun tak
menghalangi beliau tuk kempas – kempis menikmati
produk tembakau negeri.
Ku masih mencoba menangkap momen
diantara ragu dan gelisah. Ku lihat gadis geulis
yang bijak di caption ig-nya mulai menaikkan
jendela kuda besi jazz mewahnya. Pesona
harumnya barang buangan gagal menyatu dengan pesona cantik majikannya dulu. Kini
ia harus rela dengan pesona rokok majikan barunya. Bingung membelenggu ia
terkesan, kenapa manusia dulu berusaha demi diriku kalau pada akhirnya mereka
tak menyapa. Tapi aku yakin, hidung pasti menerima salamku walau tertutup tangan jahil
yang menghalangi senyum manisnya. Aku pun teringat kata Minato Sensei, 'yang melupakan temannya adalah lebih buruk dari sampah.'
Coba dengarkan bisikan sang alam
Dengarkan keluh kesahnya
Tentang manusia yang lemah
Namun angkuh berdiri di atasnya
Jona M,-
Depresi terkadang menyerang
kesendirian. Ku hanya mengisi waktu luang melihat sekilas nasihat – nasihat bijak
dari caption ig gadis yang mencreng. Bertuliskan
public figure di kategori
ig-businessnya, perlahan fotonya mensayupkan mata, memanjakan penat, dan
menguapkan pikiran jernih.
Salam hamemayu hayuning bawana.
Daftar Pustaka Foto;
http://budidayacabe.ptnasa.net/cara-tanam-cabe/
https://www.riaupembaruan.com/?kat=pekanbaru&title=Sopir-Angkut-Sampah-PT-MIG-Mogok-Kerja
https://tempatwisatadibandung.info/gunung-putri-lembang-bandung/
Komentar
Posting Komentar