Langsung ke konten utama

Balada Penerka Sukaluyu



Bilur embun
Di punggung rerumputan
Langit biru kapas awan
Sapa burung berbalasan


Bayang menerpa atas kelahiran hari yang baru dan semangat baru. Semangatnya mentari menyilaukan jendela dunia. Gema aksara burung menjadi balada menghantarkan mimpi calon pemimpin bangsa. Hari ini bukan hanya untuk kumiliki, namun akan kami jadikan rajutan asa. Bersemilah di taman, Wahai Kawan! Jadilah bunga yang mekar dan temani daun – daun serta terangi hidupnya!


Dan waktuku tak lama untuk meratapi semesta tua ini. Kuangkat tantangan 21 hariku. Kulangkahkan kaki perlahan namun pasti. Oh Hartini dan Ikki, kepedihanku atas tangisanmu. Buatlah kehadiran hari – hari esok yang gemilang! Oh Hartini dan Ikki, kepedihanku atas beban moral yang kau tangguhkan padaku. Oh Hartini dan Ikki, bagaimana bisa aku hidup seegois ini setelah melihat dirimu yang memilukan. Yakinlah, aku sangat marah akan diriku yang ingin menjadi sampah dan budak.


Kutersungkur di atas tanah lapang, terpanggang wajah mentari pagi. Menikmati momen senang kebersamaan lagu sorak sorai Halo – Halo Bandung warga BaLong. Menikmati momen kesedihan Pak Ekbang dan Pak Ramlan atas pelepasan calon babu bangsa. Menikmati momen sedih terakhir Sukaluyu bersama Sang Jebrut. Menikmati momen kesedihan, kegagalan mencerahkan jurang muda Batununggul yang terlalu dalam. Sisa perih jemari 21 hari akan kami bawa mati.

*
Matahari pagi
Hangat dan menerangi
Dunia yang gelap
Hati yang dingin
Perlahan berganti
Menjadi bahagia



Kutak mengerti motivasi Bagoes memberikan backsound matahari pagi di kala betara kala memakan sang surya. Lukisan kanvas ini harus mengalah akan kenyataan ego rutinitas kampus yang mulai berjalan monoton. Hanya tangis air mata yang mencoba membendung rutinitas kampus. Apa daya kami. Rasa dan karsa ini masih kurang cukup untuk mengalahkan logika Dewa Ganesha yang memaksa kami untuk pulang. Sayup – sayup pekat lambaian daun pisang menjadi saksi bisu atas tangis Pak Rawa dibalik pelukan terhadap diriku yang hina ini. Maafkan daku yang hendak melangit lagi.


Malam itu, warna – warna yang tercipta akan selalu menyisipkan harap dan doa. Bagi teman – teman yang selalu merasa mewangi, sadarlah kita hanya arang dan abu.


*
Kini kumenua
Aku sadar kutelah menua. Menua dalam kehidupan langit kampus Ganesha. Kusadari diri ini ingin membumi bersama petani bangsa. Bermodalkan udeng Bali dari Romo, kuingat pesan agar selalu membuat ikatan saudara nusantara di mana pun berada. Jadilah Satria Pinandita Wicaksana sebelum mulih ing alaming asuwung. Seperti kilat memang, jiwa muda yang selalu ingin dijunjung ini memang tak bisa diredam.

Aku dan segala balada penerka ini adalah hening tangis panjang yang tiada henti. Dalam diamku, ada luka yang tertawa riang yang meneriakkan kebebasan bangsa.

Kami terbang menuruni lereng Bandung bermodalkan pesawat kanvas yang hendak kami lukis. Bersama dengan deburan angin panas dan debu menyambut kami di dasar tanah lapang yang gelap. Kami coba susuri jalan yang berbatu, menanjak, menurun, sempit, licin, dan gelap. Sampailah di titik yang hendak kami lukis. Bantar Kalong, Batununggul, Tangkolo, Sekbrak, Cimurah, Cipicung, dan tentu Sukaluyu.

Aku datang ke Sukaluyu. Lintingan tembakau dibalut kopi hitam panas menerpa penatnya tubuh. Stamina memuncak ketika lidah menyentuh panasnya pisang goreng. Cukup sambutan gigi senyum yang luar biasa dari warga menjadi penerangan kami malam pertama itu. Nasi liwet dari wanita – wanita perkasa bergejolak membakar asmara lapar di rongga.

Betapa kudamba
Sinar sang surya
Yang merekah di kala pagi
Di ufuk timur khatulistiwa


Mungkin sang mega fajar memang butuh perhatian. Karena setahuku di langit tidak ada ayam berkokok. Hanya ada awan petir yang siap merenggut nyawa insan yang terbang terlalu tinggi. Dan hanya di Sukaluyu, gemerlap sang mega fajar disambut sapaan si ayam jago. Sebuah fakta unik yang belum pernah aku dapatkan di Kota Kembang.

Kata si botak Iqbal bangunlah, sebab pagi terlalu berharga untuk kita lewati dengan tertidur. Sepertinya kata – kata tersebut terdengar familiar di hatiku. Ugh, kapan lagi pagi kunikmati dengan sujud atas keharibaan-Nya. Terima kasih semuanya, telah mengingatkan diriku yang akan dosa. Makna kehampaan diri ini perlahan sirna.

Tiap pagi, kulepas baju coklatku agar bisa melebur dengan yang lain. Memang benar adanya kenapa harus ada yang mempertanyakan kedudukanku. Ku hanya bisa canda, tawa, lapar, makan, sebat, tidur, canda lagi, lapar lagi, makan lagi, tawa lagi, sebat lagi, tidur lagi yang menjadi rutinitas yang tiada hentinya. Tiap detikku adalah liburan. Sungguh nikmat sekali menjadi kaum bumi. “Mungkin” itu yang dirasakan kaum kompleks.

Hampir tiap pagi, kami tersenyum melihat gagahnya Rizpur bercerita tentang mimpi imajinasi hari itu. Walau bukan cerita si kancil, namun selalu berhasil menina-bobokan kami kembali. Bahkan melempar sebagian dari kami (Bagoes, Agha, Rauf, Iqbal) untuk berbulan madu di atas pelangi. Hanya nasi liwet, kopi (dan sebat untukku, Acuy, Agha, Rian) yang dapat membuat kami berdiri hidup kembali. Terima kasih Rizpur yang telah memimpin kami ke taman mimpi. Terima kasih Korlap Sukaluyu Angels yang telah memimpin kami ke medan sebenarnya.




Hampir tiap pagi, kami selalu iri terkagum – kagum akan sinar semangat Pak Qomar yang menyelimuti raganya. Walau tanpa rencana dan evaluasi, beliau selalu bisa menyurangi kami dalam mencuri start. Rasa keringat Pak Qomar yang tak terbendung itu selalu hilang dan sirna dihempas sang surya. Kini yang tersisa adalah luapan rasa senang akan diri kami yang dianggap sebagai penolong. Kini yang tersisa adalah rasa syukur yang akan selalu membekas tua.

Pilu rasanya ketika kusadar kupunya etika, namun pahamku hanya sebatas kata. Dibalik nasi Husni yang hanya berlauk garam, kepedulian warga terlampau tinggi. Masih terenyuh rasanya ketika mengingat iring – iringan warga yang seolah melayat melepas kepergian Agha ke puskesmas. Mengharukan, sungguh.
Mungkin sejak itu,
Tuhan sebut kita sia – sia

Hampir tiap siang, kami berbagi cinta asih di atas hijaunya daun pisang. Ngeliwet sasarengan menjadi momen – momen yang paling diri ini sukai sebelum nyebat. Terkadang canda, tawa, marah menjadi pelipur lara di kala sang surya menguapkan semangat. Terkadang pula pasir, semen, bata menjadi pelampiasan syukur akan keberjalanan hidup ini. 



Tak lupa akan Sang Jebrut, yang selalu memudahkan keberjalanan pola hidup kami di sini. Tanpa kenal pamrih, tanpa kenal lelah, selalu membantu dengan ikhlas. Namun, Sang Jebrut terlalu kaku untuk diremehkan. Tidak terlalu suka untuk becanda. Pernah suatu saat diriku dan Dai menjadi pelampiasan-Nya ketika menanjak bukit Sukaluyu. Keramik – keramik perhiasan jatuh terlontar ke tanah. Untung tiada satupun yang menjadi cacat. Hanya tawa yang bisa mengobati lara yang ada di tubuh. Terima kasih Sang Jebrut!





Tak lupa doaku akan cubluk yang senantiasa senyum ternganga dengan ikhlas. Terima kasih cubluk yang selalu ada disaat kami senang ataupun susah. Senang dikala menemani aku sebat, susah dikala menemani perutku yang rewel. Selalu simpel, tanpa air, tinggal modol, bikin ketagihan!




Serpihan angin sore menciptakan momen kebersamaan di bawah lembayung senja. Waktu itu kami sedang bertutur sepuasnya serta rebahkan raga. Hanya ada saksi bisu diantara kita. Biarkan batu kali bersaksi kalaupun bisa. Lepaskan peluh keringat yang telah menyelimuti tubuh selama berhari – hari. Tawa dan canda menjadi bumbu perasa akan saksi mungil dan imutnya calon generasi bangsa.




Dan tepat di atas aliran pelan Caihea, kami diskusikan arti dari filosofi kenangan. Dan suatu saat nanti, kuharap kita kan punya alasan untuk tersenyum sendiri. Semoga cerita kita kan abadi, sampai jadi debu.

 
 
*
Di kala malam itu, semua mencampur dengan tujuan satu asa – haribaan Sang Gusti. Dalam ayaman bambu, kami lanturkan puja – puji kepada-Nya. Tembakau pun rela terbakar demi sampainya doa kami akan keselamatan dunia akhirat. Berharap kepulan asap akan membawa doa kami ke langit. Berharap kepulan asap akan menyentuh fatamorgana surga.

Sukaluyu, terima kasih akan inspirasi lukisan kanvas hidup kami.

Kau dan segala cerita ini
Adalah igauan yang tiada hentinya
Punggungmu adalah bukit yang saban hari tak kunjung selesai kudaki
Sampai aku patah kaki dan kau pura – pura mati

Jadi,
Kenapa rasa ini masih terasa?
Kami yang hanya singgah
Atau
Kami yang terlampau sungguh?
-amigdala

Salam memayu hayuning bawana!


*

Terima kasih kepada Rizpur yang sudah bersemangat setiap hari, memberi mimpi bayang imajinasi tiap hari.
Terima kasih kepada kombinasi mamang tua Nacuy dan si botak Babal yang ga punya malu dalam berbelanja.
Terima kasih kepada Rian yang sudah menjanjikan dua botol minuman.
Terima kasih kepada Agha yang sudah berbagi momen di kala sore ketika mandi. Kalem, kita bakal ke Papua kok.
Terima kasih kepada Lutfi yang sudah menjadi inspirasi dalam membuat meme.
Terima kasih kepada Gempar yang sudah mengendalikan kyubi dan jadi bapak yg baik. Pantang menyerah mencari besi.
Terima kasih kepada Dani the big guy yang sudah mengajarkan kentut tanpa malu ketika tidur.
Terima kasih kepada Bagoes yang sudah memaksaku solat Isya dan memberi backsound matahari pagi.
Terima kasih kepada Dai yang sudah mengabadikan momen diriku dan bikin marah Jebrut.
Terima kasih kepada Husein yang telah mengajarkan cinta adalah romansa.
Terima kasih kepada Rauf yang sudah membawakan kami makan yang banyak. Btw, selamat kamu menjadi juara liga bulan madu di atas pelangi.
Terima kasih kepada Firman yang sudah ngeplot orang2 di sukaluyu.
Terima kasih kepada Antiana Grande yang sudah sabar menjadi mamaku. Kkn 17 aku deket ama anak biologi lho, siapa tau sekarang geser ke mete. Jangan bersumpah untuk tidak nikah sama orang jogja ya, siapa tau ceritanya kaya om bahar.
Terima kasih kepada Cae yang sudah sabar dan menjadi inforwoman. Yg sudah peka.
Terima kasih kepada Sarah yang sudah curhat tentang pacar. Jangan sedih ya, banyak yg lain kok, ada Lutfi tuh.
Terima kasih kepada Puti yang sudah keep strong nggak ngrepoti panitia ketika sakit. Ada tuh kemaren anak cowo yang lemah yg perlu dibawa ambulans.
Terima kasih kepada Zahra yang udah curhat. Salut juga yang rela berkorban demi keinginan orang tua. Semangat!
Terima kasih kepada lagu2 indie yang sudah menemani dan menginspirasi menulis – banda neira, amigdala, figura renata, dll



Terima kasih kepada saudara – saudari perjuangan berbaju coklat. Kenangan indah tentang kamu terlalu banyak. Tidak akan pernah bisa dituliskan. 😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

How climate change adaptation produces inequality

According to Asia's fact sheet from IPCC (2022) , cyclones, floods, and typhoons have displaced 9.6 million in South, Southeast, and East Asia in 2019, or about 30% of total global displacement. This phenomenon will worsen as IPCC found that climate change in the form of rising temperature increases the floods in monsoon regions like Southeast Asia. Together with the heat stress, the fact shows that surges will highly likely harm food availability, resulting in undernourishment. In 2020, the floods combined with sea-level rise had increased the risk of 30,522 lives in Kuala Lumpur (Malaysia), Jakarta (Indonesia), and Ho Chi Minh (Vietnam). Furthermore, an additional 10,830 people will also be at high risk in 2035 (IPCC, 2022) . In Indonesia, the destructive impacts of climate change on the coastal sector, sea-level rise, will be responsible for 70.82% of the potential economic loss in 2024 for approximately 5.45 billion USD (National Development Planning Agency, 2019) . The most ...

Australia Safeguard Mechanism’s Impacts on Economy

  Executive Summary      Australia sets a target to reduce emissions from 621 MtCO 2 -e in 2005 to 354 MtCO 2 -e in 2030 (DCCEEW, 2022a) . However, under the current effort, it is probable that Australia will emit 390 MtCO 2 -e in 2030 (DCCEEW, 2022b) . As deeper cut is fundamentally required, the Albanese government has just reformed the safeguard mechanism to further pressure the carbon emitters business to adhere closely to the Australia’s goal by strictly limit their caps. To achieve the national goal, it is expected that the new emission cap will be progressively tighten at least 4.9% per year (DPMC, 2023) .      The mechanism is criticized as a ‘toothless tiger’ since emissions from fossil fuels-related industries ironically grow up (ACF, 2022) . Since 2005, the sectoral emission trends in stationary energy, transport, and fugitives have increased 27.4%, 13.2%, and 14.1%, respectively due to continued growth of production and export...

Timor, A Global South within Global South

  Beta percaya refleksi tu bagian dari co-production of knowledge . So, this is my reflection of my latest six-month research in Timor. What is a global south? Firstly, let’s talk about what planning is . Planning atau perencanaan merujuk pada (UN-Habitat, 2009, p. 3) adalah upaya kolektif orang-orang untuk intervensi alam dan mengubahnya menjadi sebuah tempat atau kawasan yang sesuai dengan tujuan kolektif tersebut, khususnya dalam konteks sosial, politik, dan lingkungan. Tentu dalam perencanaan tersebut, banyak multidisplin yang terlibat termasuk masyarakat itu sendiri, pemerintah, dan para investor. Kalau kita gali lebih dalam, terdapat 5 aspek dalam perencanaan (Healey, 2003) : orientasi mengenai masa depan dan aksi-aksi sekarang akan mempengaruhi potensi masa depan, fokus pada kehidupan dan keberlanjutan untuk orang banyak (bukan hanya beberapa kalangan), keterikatan dan kesinambungan antara satu rencana ke kejadian yang lain, fokus dalam pengembangan pengetahuan aksi publ...