Aku mendakimu jauh sampai patah kaki
Sedang kau mati suri berdendang sendiri
Sejak itu, Tuhan sebut kita sia – sia
Kami merasa menjadi kaum mahasiswa yang tertindas.
Kami terkekang oleh keadaan ambisi yang menuntut akan cita – cita kesuksesan
pribadi. Kami menghendaki kemerdekaan atas kemauan akal kami sendiri. Karena
jauh dilubuk akal kami, cita – cita akan kesuksesan pribadi merupakan hal yang
tidak masuk akal. Apalagi dengan adanya ketimpangan sosial antar sesama manusia
sebagai makhluk yang dikaruniai akal.
Saya kira berbicara mengenai Tuhan bukanlah
hal yang relevan,
Apalagi dengan adanya pengisapan manusia
atas manusia yang terjadi di depan mata.
Seyogyanya mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat.
Namun dalam kampus, kami merasa terkotakkan dan terpisah dengan masyarakat.
Hari demi hari kami dimanjakan dengan ilmu pengetahuan tanpa tahu kegunaannya
bagi sesama manusia. Kami rasa ini kebun binatang dengan toilet yang mewah.
Kami manusia, bukan binatang.
Oleh karena itu, wadah berupa Kuliah Kerja Nyata
Tematik merupakan fasilitas yang tepat sebagai refleksi akal kami akan keadaan
manusia yang sebenarnya. Kami belajar bagaimana indahnya interaksi antar
manusia. Kami juga tersadar bahwa sejauh 49,7 km dari kampus ini, manusia
menggunakan cubluk yang kotor.
Supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga
pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.
Untuk Tuhan, Bangsa, dan
Almamater! Merdeka!

Komentar
Posting Komentar