Orang kuliah itu keren-keren
ya. Mereka punya ide brilian yang keren dibanding orang-orang golongan tua di
desa. Semoga aku bisa kuliah. Ya itulah kesan pertama ketika ngobrol sama mas
Danang, mahasiswa UNY yang lagi kkn di desaku.
First Impression
Aneh, kelas dimulai jam 9.00.
Kali ini jarak tempat tidurku dan kursi depan papan tulis dalam GKU Barat hanya
10 menit jalan kaki. Padahal 6 tahun sebelumnya, jam 05.30 aku sudah siap di
pinggir jalan naik bis dan 24 km kemudian baru sampai kelas.
Kata simbokku, sukses tu bisa
lewat dua jalan. Jalannya orang pintar yang akademis dan jalannya orang bodoh
yang rajin ibadah.
Terdidik sejak Rohis SMA, aku
percaya bahwa puasa daud, tahajud, dan dhuha adalah sebuah paket yang membuat
diriku yang bodoh ini sampai ke Jalan Ganesha 10. Namun, orang-orang ITB itu
jancok semua, sudah pintar masih pula rajin beribadah. Kala SMA, insecure di
kelas itu bagiku hal yang wajar karena bisa tak susul lewat jalur doa. Tapi ini
kuliah sungguh kebangeten, aku solat di Masjid Salman pun malah insecure karena
teman-temanku yang outstanding di kelas juga ikut solat, jadi imamku
lagi. Sujudku ga khusu’ lur. Yaopo cok arek-arek iki!!!. Ya begitulah
pikirku sebagai wong ndeso di semester 1, September 2015.
Hiya hiya hiya hhiyaaa...
Aku berpikir bahwa
sekembalinya di asrama, insecureku bakal hilang karena bisa main HP android
ASUS Zenfone 5 sinyal H+, teknologi baru yang baru saja aku punya, hadiah dari
simbok karena bisa kuliah di ITB. Lhadalah aku kaget, ternyata grup LINE
kelas banyak iklan les privat berjuta-juta yang menawarkan IPK tinggi dan
jurusan cita-cita terpenuhi (mahasiswa ITB baru penjurusan di semester 3,
penjurusan berdasarkan minat, bakat, dan tentunya nilai akademik). Cok, aku
kira les-les privat itu hanya ada Neutron, Primagama, Ganesha Operation yang
diperuntukkan supaya sukses ujian nasional SD-SMP-SMA. Ternyata ada juga les
privat untuk mahasiswa ITB. Sudah membayar UKT tinggi-tinggi, masih aja nambah
les di luar. Untungnya, kondisi diriku ini bukan menjadi target pemasaran.
Setelah beberapa bulan berjalan
dan mencoba mengobrol memakai gw lu dengan logat medok, aku sadar bahwa teman-temanku
ternyata pada keren semua, mereka mempunyai visi dan cita-cita yang tinggi. Banyak
dari mereka yang ingin masuk jurusan favorit yaitu teknik geologi. Ternyata hal
itu bisa membuat kerja di bumn, kerja di oil and gas yang gajinya gede.
Yaudah aku juga ikut-ikutan pengen dan mencoba menyamakan ritme belajar. Tapi yaopo,
susah lur karena beda kebiasaan. Pernah belajar kelompok, teman-teman
ngusulin belajar di McDi, lha aku ngusulin belajar di warteg mbak Reni belakang
Pasar Dago. Cokk
Hei henti sejenak! Aku
terengah susul langkahmu kawan!
Cok, aku juga sadar ternyata
selama ini aku kuliah juga ga pernah paham fashion. Masih aja celana SMA
biru yang kepanjangan tak pakai, ga pernah pakai parfum lagi. Duhh. Terus di
ujian semester akhir kalkulus, aku cuma dapet 7 out of 45. TUJUH. Emang ini
matematika kalkulus isinya huruf semua gaada angkanya. Duhh Gustiii, I don’t
even understand what I don’t understand.
Mut mut mut ya, ya mumet
Ya pada akhirnya aku mulai
bisa berjalan menyamakan langkah dengan kawan-kawanku. Walau kadang sering
banget terseok-seok khususnya di dunia akademik. Di sisi lain, sebenarnya aku ngerasa
capek dengan semua tekanan belajar ini, belum ditambah dengan masalah ekonomi
yang terkadang bikin susah fokus dikelas karena belum sarapan. Duh, mau sukses
di kuliah susah juga ya? Tapi yang lain bisa masa aku ga bisa? Huhu cupu banget
diri ini.
Mnurutku ini orang-orang kota
emang pada individualis banget deh. Ini sungguh ga sreg banget. Hal ini sungguh
aneh karena kebiasaanku di rumah yang sering main-main dengan tetangga,
ngajarin ngerjain PR anak-anak SD-SMP, kerja bakti bikin lapangan, wisata
bareng, main layangan sambil metik cabe rawit di sawah, hingga panen padi
bareng-bareng.
The Student Star-Complex
Di tahun kedua, aku mulai
tidak medok ketika ngomong gw lu. Di masa kuliah ini aku mulai banyak
teman karena sudah dalam satu jurusan, apalagi teman-teman satu jurusan cuma 39
orang. Waktu itu masih terasa aneh karena aku baru mengenal orientasi jurusan,
yang penuh dengan penanaman nilai dan esensi himpunan mahasiswa, yang dibalut
dengan agitasi mental dan fisik dari magrib hingga subuh. Setelah menjadi
bagian dari sebuah himpunan mahasiswa, aku menyadari kehidupan politik kampus
melalui forum-forum mahasiswa dalam kampus seperti unit kebudayaan mahasiswa,
himpunan jurusan, dan BEM pusat. Aku belajar banyak Pancasila sila ke-4
mengenai musyawarah mufakat di setiap forum-forum mahasiswa yang seringkali
berlangsung hingga dini hari. Terkadang, kami bahkan berdebat mengenai tempat
penyelenggaraan sebuah acara, visi-misi calon ketua organisasi, hingga debat
kusir apakah acara yang bakal diadakan masuk kategori definisi community
service atau community development. Selain itu, aku juga menjadi
tahu bahwa jaket himpunan yang kotor menandakan sang pemilik sudah
berkontribusi besar terhadap sebuah himpunan.
Sejujurnya bagiku itu aneh,
lucu, dan sangat ga penting. Perasaan tersebut muncul karena ketidakmampuanku
untuk mengikuti teman-teman dalam berargumentasi. Dalam decak rasa kagumku
terhadap hebatnya para kawan menggali dasar-dasar pemikirannya, menguatkan
argumennya, dan kerennya mereka ber-orasi depan massa kampus, terpendam rasa
iri ingin bisa seperti mereka. Suatu hari, aku pernah ngomong di depan forum,
tapi ya jatuhnya malah ngelawak hehe, emang mukaku canda kali yak. Kemudian pernah
pula diriku ikut temanku mengkaji beberapa fenomena sosial dan buku sejarah
ekonomi politik isme-isme supaya bisa berpikir kritis, tapi ya ga nyampe
kapasitas otak ini. Pikiranku hanya mentok di bagaimana biar bisa lulus matkul mekanika
fluida semester ini dan bagaimana hari ini maksimal jajan 20 ribu biar sisanya
ditabung buat bayar kosan.
Budaya apresiasi di ITB aku
akuin emang bagus, khususnya bagi prestasi di sektor-sektor non-akademis.
Hampir setiap perkumpulan mahasiswa dan rektorat sendiri mempunyai cara
masing-masing untuk mengapresiasi anggotanya yang sukses melalui majalah dan
sosial media. Tetapi, terkadang aku merasa adanya over appreciated dan
klaster-klaster tertentu sehingga cenderung adanya perlombaan mencari peran dan
jabatan kampus. Sebagai contoh, mahasiswa dikenal sebagai oh si A yang ketua
himpunan, si B yang ketua blablabla, hingga si C golongan depan, dan si D
golongan belakang. Pokoknya ada embel-embel nama di belakangnya deh. Level bisa
dikategorikan elit jikalau seorang mahasiswa udah bisa ngisi forum-forum di
mana yang berkaitan dengan dunia kemahasiswaan itu sendiri dan terkenal di
massa kampus. Terkadang aku ngerasa ini orang-orang merasa haus dipuji. Cok,
banyak suudzon aku ya Allah.
An academic celebrity from
campus, fame is no longer a by-product of intellectual praxis, but his or her
primary raison d’ȇtre (Fleming, 2021).
The Demise of Homo Academicus
Pendidikan, Penelitian,
Pengabdian
Semboyan yang fundamental bagi
tiap-tiap kampus di Indonesia yaitu Tridharma Perguruan Tinggi. ITB
sebagai salah satunya tentu sangat berprestasi baik di segi pendidikan maupun
penelitian. Medali emas olimpiade dan menerbitkan jurnal Q1 merupakan hal
mungkin bisa dibilang biasa saja bagi beberapa kalangan akademis di kampus ini.
Lantas, bagaimana dengan pengabdiannya?
Sebagai orang yang awalnya tidak
pernah terpikir sama sekali untuk berkuliah, tahun-tahun pertama di Bandung
penuh dengan pertanyaan-pertanyaan mencari jati diri. Pengen aktif di dunia
kemahasiswaan kampus seperti BEM dan himpunan, tapi banyak diskusi saling adu
argumentasi yang membuat diriku pusing. Teman-temanku sungguh pintar, tapi di
sisi lain juga banyak childish momentsnya seperti memperebutkan juara
suporteran futsal dibanding pertandingannya itu sendiri, tawuran antar himpunan
ketika pertandingan bola, hingga arogansi beberapa himpunan tetua ketika prosesi
wisuda. Cookk, terkadang aku miris, soalnya deep down sebagai orang ndeso
aku berpikir bakal banyak kajian gimana bantu rakyat daripada acara-acara
seremonial kampus. Bahkan ketika forum mahasiswa pun terkadang kata “pengabdian”
dalam kegiatan sosial pun masih dipertanyakan. Yaela mau pengmas aja ribet
diskusi filosofisnya. Kemudian yaudahlah aku lebih memilih aktif di dunia
kegiatan pengabdian sosial luar kampus.
Yang aku sayangin adalah KKN
di ITB sifatnya pilihan, tidak wajib seperti kampus-kampus lainnya. Kata wakil rektor
kala itu sih kegiatan tersebut mayoritas sudah tercover dengan kegiatan-kegitatan
dari himpunan-himpunan mahasiswa jurusan dan prodi. Entah mengapa ketika aku
mengikuti beberapa acara sosial dari kampus, aku merasa nggak bisa enjoy maksimal
dengan objek tujuan dari acara, yaitu warga itu sendiri. Ternyata aku menyadari
bahwa balutan almamater membuat jarak yang semakin jauh dan membuat warga
merasa bodoh dan insecure ketika harus berdiskusi dengan mahasiswa ITB yang wow
dan pintar. Perasaan ini mirip ketika aku masih SMA dan melihat mahasiswa-mahasiswa
ITB dan UGM roadshow di sekolah-sekolah atau ngadain KKN. Kala itu aku merasa
bodoh dan malu bertanya dan bergaul. Alhasil aku berkesimpulan bahwa seharusnya
kita melepas embel2 kampus dan almamater ketika ngadain acara-acara sosial.
Di tahun 2017, aku mencoba
untuk mengajar dan mendampingi anak jalanan. Aku merasa enjoy di situ
karena kepala yayasan sekolah anak jalanan Bagea, Bu Sumi, mirip sama ibuku
yang suka membantu warga. Bage ini letaknya di titik miskin termerah di
Bandung, yaitu Pasir Koja, tepatnya disamping gerbang tol Cileunyi. Selain mengajar,
tentu yang paling indah untuk diingat adalah ketika kami ngadain main mandi
bareng di salam satu kolam renang di Banjaran, selatan Baleendah, Bandung
Selatan. Bayangin deh, anak-anak kusam penuh debu jalanan menceburkan diri ke
kolam renang. Isinya cuma sumringah, tawa, dan takut main perosotan karena
seumur-umur ga pernah main perosotan kalik. Liat Gordon seneng, aku juga ikut
seneng. Bayangin deh seorang bocah 9 tahun dipukulin ibunya terus karena duit hasil
ngamen tidak pernah mencapai target buat ngelunasin utang ke bank plecit ☹. Alhasil,
adiknya yang berumur 5 tahun yang jadi sumber pendapatan utama dari jalanan.
Pernah suatu semester aku
sering ikut aksi-aksi kamisan dan demonstrasi seperti hari Buruh dan Reformasi
Dikorupsi. Seperti biasanya, atas nama mahasiswa, KM ITB biasanya mengadakan
kajian yang menghasilkan pernyataan sikap serta orasi dengan memakai almamater
kebanggaan tanpa membaur dengan kawan-kawan non-mahasiswa lain. Bagus sih,
pernyataan teman-teman ITB memang berdasar kajian argumen yang kuat. Tapi
perasaan hati terkadang merasa aneh soalnya harusnya ada sikap lebih dari
sekadar pernyataan sikap. ☹ Tapi ya aku juga mereka bisa apa. Mahasiswa
yang manusiawi mengingat mereka juga banyak tugas dan praktikum di kampus.
Bodohnya diriku, ngerasa aneh tapi gatau apa yang bisa diperbuat.
Perang antara kesetiaan dan
pengembaraan
Puisi Sitor Situmorang seakan
nggambarin situasi mahasiswa yang lagi tinggi-tingginya perjuangin idealismenya
masing-masing. Masih ingat diriku akan teman-teman yang selalu kajian dan menyuarakan
solusi dan ide-ide atau ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Wow, keren
anjir soalnya mewakili perasaanku yang gabisa kuungkapkan dengan kata-kata
berbobot. Pernah kuberharap besar dengan menjadi pendukungnya dalam pemilihan K3M
ITB. Dengan pengalamannya dalam ekspedisi dan melalangbuana ke pelosok-pelosok
negeri serta bercerita tentang pendidikan, aku yakin dia akan merjuangin
kaum-kaum kaya diriku dan orang-orang ndeso lainnya kelak setelah lulus.
Yaaa apa daya, setelah lulus
cari kerja susaaah. Kekuatan orang dalem bisa dimanfaatin buat masuk ke
bumn-bumn seperti kawanku yang idealis itu. Ya manusiawi lah, cari kerja di
masa pandemi susaah. Family and relations first. Cook
Tulisan ini merupakan
pengalaman pribadi penulis yang berlatar belakang ndeso yang kemudian
melanjutkan pendidikan sarjana di ITB dari 2015-2020. Hal-hal di atas ini tentu
bersifat relatif. Nulis ini karena kemotiasi Dark Academia: How
University Die, bukunya Prof. Peter Fleming yang rilis pada Mei 2021 untuk membahas
beberapa pengaruh dan gejala korporatisasi di kalangan perguruan-perguruan
tinggi berdasarkan pengalaman beliau melalang buana di UK dan US. Katanya,
kampus-kampus Australasia juga bakalan cenderung mengikuti pola-pola tersebut.
Personally, aku kurang paham karena banyak kosa-kata English yang memang ga
familiar. Untungnya, Prof. Arya Hadi dari IPB membedah buku tersebut dichannel
youtube ini sehingga ya nyantol-nyantol dikit lah. Ketika lagi dengerin secara
saksama, aku jadi kepikiran buat nulis pengalamanku kuliah di ITB dari 2015-2020
dari sudut pandang orang ndeso hehe. Berikut delapan aspek penting
bukunya Prof. Fleming:
1. La La
Land
2. Welcome
to Edu Factory
3. The
Authoritarian Turn
4. You’re
Not a Spreadsheet With Hair
5. The
Demise of Homo Academicus
6. High
Impact…
7. The
Academic Star-Complex
8. Student
Hellscapes
Komentar
Posting Komentar