Duh, ngomongin privilege di Indonesia mah gabisa jauh-jauh dari ngomongin kekayaan dalam jumlah duit dan relasi. Ya memang benar kalau dilihat dari salah sudut pandang keuntungan yang sebesar-besarnya, ukuran yang dipakai adalah faktor ekonomi yang notabene menjadi aktor utama. Sebagai contoh, semisal si A adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pengusaha, wajar saja dia sukses dalam membangun bisnis karena modal orang tua yang dia punya.
Lantas apa itu
sebenarnya privilege?
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, privilege merupakan hak keistimewaan yang dimiliki
seseorang. Definisi ini tentu bisa ditafsirkan secara sangat luas mengingat
kata istimewa adalah satu hal yang
sungguh relatif bergantung budaya setempat. Mempunyai keistimewaan yang sejalan
dengan nilai-nilai setempat tentu saja akan membantu seseorang dalam berbagai
kehidupan dan menggapai cita-cita.
Definisi
privilege di Indo
Scroll up scroll down, surfing the twitter…
The privilege is
often defined as someone who possessed a very great wealthy balance of money
and power. Ya elu bisa sesukses itu karena orang tua lu kaya, lu bisa kerja di
pertamina yak arena bokap lu jadi direktur di sana, wirda mansyur sukses
berbisnis kerudung ya bokapnya kaya, bla bla bla. Even Maudy Ayunda also
admitted herself to be so privileged. Duh ribet kalau ngomongin satu-satu mah
gaada abisnya njir. Pokoknya penelitian yang dilakukan oleh SMERU Institute
menyatakan bahwa 87% orang yang terlahir miskin akan tetap miskin ketika
dewasa. Bahkan, walau lu pinter banget tapi miskin, kesempatan lu sukses cuma
27% dibanding temen lu yang bodoh tapi orang tuanya kaya yang kesempatanya bisa
63%. Wow..
So, do we the poor have the chance?
Bisa aja kalau
pindah ke Norway. Pendidikan gratis tis tis tis dari TK ampe S3. Mau lu anaknya
CEO atau anak tukang cuci piring masih punya kesempatan yang sama dalam meraih
pendidikan. Di sana ya kesenjangan tentu kecil. Of course, the happiest index
country in the world cuy.
Disadari atau
tidak, privilege orang miskin bukan terletak pada kekayaan harta dan ekonomi
atau bahkan powernya. Tentu saja memang tidak. Tapi setidaknya, kita punya
resilience yang gede buat bounce back and not an easy quitter. Gitu aja sih.
Ingat kata Nyai Ontosoroh ketika Annelis anaknya diambil Belanda, “kita sudah
melawan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya”.
1.
https://smeru.or.id/en/content/effect-growing-poor-labor-market-outcomes-evidence-indonesia
3.
Bumi Manusia, a novel by Pram
Komentar
Posting Komentar