Sekretaris Djendral Kementrian PPK Hutasoit menerangkan bahwa sampai sekarang kita masih memakai sistem pendidikan kolonial dan untuk merubah sistem kolonial itu menjadi sistem nasional memerlukan waktu yang lama dan baja yang besar. Hutasoit menerangkan bahwa sifat pendidikan Belanda itu sangat intelektuilitis dan individualistis, dan tidak demokratis. Sedangkan pertumbuhan sekolah-sekolah partikulir sangat dikekangnya dengan Wilde Scholen Ordonantie. Akibatnya ialah bahwa rakyat tidak mempunyai inisiatif dan hanya menggantungkan diri kepada atasannya dan tidak mempunyai rasa tanggungjawab atas kesejahteraan bangsa dan tanah airnya (Harian Rakyat, 16 Maret 1955).
Menurut Chris
Wibisana, pendidikan kolonial tersebut hanya melahirkan anak-anak didik dengan
kualitas tinggi, namun berhati nurani kering. Kepekaan atas apa yang dibutuhkan
rakyat, mereka tidak paham atau bahkan sengaja dijauhkan melalui padatnya
persekolahan atau bahkan sekolah sarja 144 sks yang dipadatkan dalam 4 tahun.
Kalau mau suudzon yaa mungkin agar status
quo dan kemapanan penguasa tidak terganggu oleh perubahan-perubahan yang
bersifat progresif dan terlalu kiri ekstrim.
Lantas bagaimana
dengan Merdeka Belajar program dari Mas Menteri Nadiem Nakarim? Chris menangkap
mungkin itu adalah pendidikan mempunyai fungsi sebagai pabrik dengan buruh
berijazah tinggi. Program ini mirip pola pendidikan Daendels maupun politik
balas budi Van Deventer sebelum 1900s. Sekolah Ronggeng yang didirikan oleh
orang yang bertanggungjawab terhadap penindasan 1000 km Anyer-Panarukan
tersebut melancarkan proses jual beli, kuasa politik, dan perekrutan manusia ke
dalam jurang perbudakan kerja rodi. Di Merdeka Belajar, istilah tersebut
dikenal sebagai integrasi tujuan sekolah dan dunia usaha (penyiapan SDM yang
berkualitas untuk kesesuaian kerja). Berubah ga uh?
Tertindas dan Menindas
Pendidikan Kaum
Tertindas yang ditulis oleh tokoh pendidikan Amerika Latin, Paulo Freire
menjelaskan bahwa terdapat siklus umum yang terjadi yang dimulai dari
orang-orang tertindas yang tumbuh menjadi penindas-penindas baru terhadap jenis
kaumnya yang lama. Fenomena ini bagi saya mirip dengan adanya orang-orang
miskin yang tumbuh dan berkembang pesat kemudian bekerja sesuai dengan
permintaan pasar. Kaum-kaum kami ini kurang lebih banyak terbentuk seperti itu
akibat mekanisme pasar yang kamu bisa dikata sukses kalau kerja di perusahaan
migas. Duh susah. Layaknya sang Adek yang berjualan tissue di kantin Salman
mengharap receh dari calon-calon abdi korporat yang baru selesai memberi
ultimatum kepada Tuhan untuk kesuksesan karir mereka masing-masing. Besar
kemungkinan bagi sang Adek untuk mendefinisikan kesuksesan seperti itu dan
dapatlah dia bidikmisi untuk lanjut kuliah serta menmpuh jalan yang sama. Uw
Orang-orang yang
ga kembali ini emang naïf seperti kata Freire. Galih Nugraha Su juga
menambahkan bahwa mereka tak lagi mempertahankan tradisi dan mereka berusaha
berpenampilan sebagaimana yang menindasnya. Mereka berusaha mencari pekerjaan,
bahasa yang serupa dengan penindas, dan berusaha memiliki status social yang
lebih tinggi.
Su, Galih
Nugraha, 2021, Pendidikan Yang Menjajah, Yogyakarta: Pustaka Osiris
Komentar
Posting Komentar